Tampilkan postingan dengan label Agenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agenda. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 06, 2012

Lomba Foto From Djogdjakarta with Love

Tema
From Djogdjakarta with Love dengan materi bebas dan karya boleh diedit.

Hadiah 
Juara I Rp 1.000.000, Juara II Rp 750.000, Juara III Rp 500.000.

Pendaftaran Rp 85.000 (termasuk t-shirt From Djogdjakarta with Love) dan paling lambat
11 Februari 2011. 

Pengumpulan karya di Roemah Pelantjong Jl. Magelang km8 No. 89 Sleman Djogdjakarta dan Ray Digital Jl. Kolombo no.7 (Ruko Kolombo).

Penjurian akan dilaksanakan tanggal 12 Februari 2012 dengan sesi free foto hunting with model di Roemah Pelantjong. Info lebih lanjut hubungi Riri 081 575 170599, Chikon 081 741 07117 atau Iwan Ray Digital 081 938 124 234.

Selasa, Januari 24, 2012

Keajaiban Mitos Naga



Sleman - Naga adalah hewan yang sampai sekarang belum bisa dibuktikan keberadaannya, akan tetapi ajaibnya diberbagai belahan dunia mempercayai mitos Naga ini. Mengenai bentuknya seperti hewan apa naga itu, kebanyakan menggambarkannya dengan seekor ular besar dengan kepala menyerupai singa. Di dunia belahan barat dan timur mempunyai versi masing-masing cerita tentang mitos naga.

Bertepatan dengan menjelang perayaan Imlek yang akan memasuki tahun Naga Air, Rumah Pelantjong menggelar pameran bermacam-macam barang hasil karya seni bertemakan naga, Minggu (22/01) pagi. Mulai dari lukisan, kerajinan kulit, gaun dan kain batik asli dari Jogjakarta. Kain batik yang paling unik adalah batik yang berasal dari Imogiri yaitu batik dengan teknik "nitik". Sesuai dengan namanya, teknik batik ini menghasilkan gambar dari susunan titik-titik sehingga membentuk gambar naga.

Pameran yang dibuka oleh Kartika Affandi ini mengambil tema "Naga Djawi". Di Jogjakarta sendiri simbol naga juga sudah ada sejak dulu, simbol yang memiliki arti kekuatan ini tertuang dalam ornamen rumah jaman dulu hingga keraton. Simbol naga juga dipakai pada ornamen keris, rangka gamelan, hingga kain gendong jaman dulu yang sering dikenal dengan sayuk. "Ini membuktikan bahwa naga bukan milik orang Cina saja, naga milik kita semua terbukti dengan adanya simbol-simbol naga diseluruh penjuru dunia termasuk Jawa" ujar Kafi Kurnia, kurator Rumah Pelantjong.

Acara yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini juga menghadirkan kuliner khas bernuansa naga yaitu Bakpia Djanggut Naga dan fashion show baju dengan kain motif naga. Hiburan liong dan barongsai yang atraktif oleh kelompok Naga Selatan, menutup acara pembukaan pameran bertema "Naga Djawi" ini. (Sc) Sumber: jogjanews.com

Pameran Naga Jawi


Sleman, www.jogjatv.tv  Menyambut Tahun Baru Cina atau Imlek, pada hari Minggu (22/1) pagi, Roemah Pelantjong menggelar Pameran “Naga Jawi” yang menyajikan beraneka macam kegiatan unik. Pameran yang dibuka oleh Kartika Affandi ini menampilkan kesenian naga barongsai, dan juga peluncuran bakpia unik, yakni bakpia janggut naga yang merupakan produksi edisi terbatas.
Dalam pameran tersebut, Roemah Pelantjong juga menyuguhkan kegiatan fashion show dari perancang asal Magelang, Tatok Prihasmanto. Fashion show bertema naga ini menampilkan gaya berbusana sederhana dalam potongan dan detail gaya Cina dengan material tradisional berupa jarik gendong. Di lantai 2, Roemah Pelantjong juga dmenampilkan pameran foto, lukisan, t-shirt, kuliner dan marchandise dengan visual Naga Jawi. (Ernyta – Abdul Maarif / Riza)

Senin, Januari 23, 2012

Pameran Naga Jawa

Oleh: Kafi Kurnia

Tarikh Tiongkok yang berbasis lunar, pada tanggal 23 Desember 2012, memasuki sebuah awalan baru, yaitu tahun Naga. Atau lebih dikenal dengan Shio Naga. Shio dalam penanggalan Tiongkok selalu berlambang hewan. Dan ada 12 shio dalam satu siklus. Naga adalah shio ke lima, dan tahun ini berdasarkan perhitungan Feng Shui, shio naga tahun 2012 dipengaruhi oleh elemen air.

Walaupun Naga merupakan hewan mistis, yang diciptakan berdasarkan legenda, penokohan naga ada dalam budaya barat dan timur. Meskipun bentuk penokohan-nya sangat berbeda. Naga yang merupakan simbol kekuatan kini dipengaruhi air yang sangat lentur dan mudah berubah bentuk. Maka tahun 2012 dipercaya akan menjadi tahun yang sangat unik. Sebuah awal dari sebuah peradaban baru dengan kekuatan baru. Setelah gejolak di Timur Tengah, dan wafatnya sejumlah diktator di tahun 2011. Maka 2012 dipercaya akan memunculkan kekuatan-kekuatan baru.

Di tanah Jawa sendiri, penampakan dan penokohan Naga, sangat tidak asing. Berbagai ornamen lama di gedung-gedung tua, dan kraton, sarat dengan simbol-simbol naga. Termasuk didalam bentuk-bentuk keris, perabot rumah tangga serta ornamen gong dan gamelan. Uniknya motif naga juga sangat kaya dalam kain-kain tradisional seperti Batik. Dan bentuk penokohan dan penampakan naga tersebut sangat khas dengan budaya Jawa.

Roemah Pelantjong sebagai hub-kreatif di Djogdjakarta, yang memiliki misi untuk menjadikan Djogdjakarta sebagai tujuan pariwisata global berikutnya, mulai tanggal 22 Januari 2012 menggelar sebuah pameran unik. Yakni, gelaran  yang diberi nama NAGA DJAWI. Pameran ini merupakan event dengan menggelar sejumlah kegiatan;mulai dari kuliner, batik, lukisan, foto, t-shirt, hingga merchandise.

Pameran Naga Djawi menggelar peluncuran Bakpia Unik yaitu BAKPIA DJANGGUT NAGA. Bakpia yang berasal dari dialek HOKKIEN yang artinya kue berisi daging. Konon merupakan sebuah peristiwa kuliner unik. Karena berawal dari budaya Peranakan, kini BAKPIA telah berubah menjadi oleh-oleh khas asli Djogdjakarta. Bakpia sendiri memiliki sejumlah cerita awal yang berbeda-beda dan menjadi legenda tersendiri.

Salah satu cerita favorite, adalah kue yang dikenal dengan sebutan “Lou Pho Piang” – atau kue istri ini , berawal dari sebuah desa terpencil di Tiongkok. Saat itu sebuah penyakit misterius tengah menjadi wabah di seluruh desa. Ada sepasang suami istri yang orang tuanya terjangkit penyakit tersebut.

Maka sang istri bekerja siang dan malam untuk mencari uang untuk membeli obat. Sang suami tersentuh, lalu membuat kue istimewa untuk sang istri. Cerita itu menyebar cepat keseluruh negeri, dan menjadi perlambang cinta. Termasuk di Djogdjakarta. Dan untuk menyambut tahun NAGA, Roemah Pelantjong menyajikan Bakpia Djanggut Naga yang esklusif.

Pameran Naga Djawi juga menggelar sejumlah lukisan dari para artis “street art” yang sedang naik daun. Artis seperti Anton Win, Aji, Sabik, Rewhat, Alil dan Rudy. Dan sebuah lukisan anyar, dari kartunis asal Djogdjakarta – Sukribo. Lukisan yang berjudul “ROCK’N’ROLL DRAGON” menampilkan interpertasi dan dinamika negeri yang bergejolak untuk menunggangi sang naga, agar bisa dikendalikan. Dinamika dan pergerakan yang terlukiskan menunjukan enerji dan perjuangan yang berkesinambungan. Menunjukan semangat pantang menyerah yang ditata dalam humor khas Sukribo.

Hal langka yang juga unik adalah pameran kain tradisional. Yang pertama adalah pameran sejumlah kain tradisional yaitu batik asli Djogdjakarta. Sejumlah batik tulis dengan motif naga di buat oleh pengrajin dan artis batik di Bayat dan Bantul. Batik-batik ini dibuat hanya dalam satu warna atau mono-chrome yang tradisional. Dan dua warna yang sangat indah dan mempesona. Pameran Naga Djawi juga menampilkan batik nithik asli Imogiri. Batik tradisional ini sangat berbeda dalam cara pelukisan-nya, yaitu tidak dilukis melainkan dilakukan dengan cara menitik-kan sejumlah titik yang membentuk motif Naga.

Kain tradisional yang kedua adalah sayuk alias gendongan. Ini adalah kain khusus yang di buat dengan tekhnik batik, dan dipakai untuk menggendong bayi atau anak kecil. Kain tradisional ini selalu dibuat dengan warna-warna yang sangat menyolok dan diberi motif naga yang sangat kharismatik. Konon motif naga dimaksudkan, agar sang bayi atau anak mendapatkan kekuatan, enerji mistis dari sang Naga. Dan juga perlindungan yang seutuhnya dari yang maha kuasa.

Yang sangat istimewa dalam Pameran Naga Djawi adalah kreasi kreatif seorang desainer muda Tatox Christ asal Magelang, yang menggunakan bahan batik gendongan atau sayuk ini menjadi kreasi fashion seperti gaun dan kemeja yang bernilai tinggi. Sebuah upaya re-inventing kain tradisional menjadi sebuah karya baru yang sangat menarik.

Pameran Naga Djawi, dibuka oleh Ibu Kartika Affandi dengan pemotongan tumpeng Bakpia Djanggut Naga, dan dimeriahkan dengan fashion show karya Tatox Christ dan tarian Barongsai, dengan tujuan mendoakan agar tahun Naga air ini membawa rejeki dan berkat yang berlimpah.

Selasa, November 29, 2011

Liputan6.tv :: Dengan Bambu Melestarikan Orangutan ::

Foto: Antara
 Liputan6.tv :: Dengan Bambu Melestarikan Orangutan ::

Andi Ramdani sedang mengerjakan pembuatan orangutan raksasa setinggi lima meter di Roemah Pelantjong, Jl. Magelang, Yogyakarta, Sabtu (26/11).

Pembuatan orang utan dengan bahan bambu setinggi lima meter tersebut sebagai bentuk sikap untuk menolak pembantaian orangutan di Kalimantan.

Senin, November 07, 2011

Seminar Strategi Pemasaran Pariwisata Bersama Kafi Kurnia

ROEMAH PELANTJONG mempersembahkan,
sebuah seminar penting yang strategis untuk 2012,

DJOGDJAKARTA SLOWLY ASIA

Sebuah Strategi Pemasaran Pariwisata, ala KAFI KURNIA -
khusus di rancang untuk DJOGDJAKARTA,

Jumat 18 November 2011,
mulai jam 14.30 hingga jam 18.00
di Roemah Pelantjong
Jalan Raya Magelang km 8 - no 89

Penting dihadiri semua praktisi pariwisata di Djogdjakarta

Tempat sangat terbatas !
Biaya : Rp. 50.000.- ( gratis 1 kaos + snack )

Pendaftaran :
Riry: + 62 815 751 170 599
Umami : + 62 858 421 70551

Senin, Oktober 10, 2011

Djogdjakarta Slowly Asia | a Streetart Exhibition

PARALEL EVENTS BIENNALE JOGJA XI
Roemah Pelantjong Proudly Present
A STREETART EXHIBITION
"DJOGDJAKARTA SLOWLY ASIA"

STREETARTIST :
SUCKTRASH | ANT | WHAT1204 | NSIDE | VAYNE | RUBS8 | MUCK TUYULOVEME | OAKER | NICK | BLAME | OYSTER | BIGSHOW | TRAGIC

OPENING :
20 October 2011
16.00 WIB till drop
(By Kafi Kurnia -Kurator / CEO Roemah Pelantjong)
At ROEMAH PELANTJONG
Jl. Magelang KM.8 Yogyakarta

HIPHOP PERFORM :
| Saintrow (SBY) | Youngsta | Djavallutha | Dirty Connection | | Gangguan (Pasuruan) | N.0.K. wolfgang | Soul2playa | N.O.T || JKH2C | ROU | ROMANU (Wonogiri) | B.E.N.D.O.T (Pasuruan)

Rabu, Oktober 05, 2011

Bersih Desa Nglanggeran

Foto: Masipoeng
Bersih Desa adalah sebuah ritual dalam masyarakat kita. Bersih Desa merupakan warisan dari nilai-nilai luhur lama budaya yang menunjukkan bahwa manusia jadi satu dengan alam. Ritual ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap alam yang menghidupi mereka.


Senin, Oktober 03, 2011

Agenda Oktober: Karnaval di Djogdjakarta

www.jogjajavacarnival.com
Djogdjakarta Java Carnival adalah karnaval malam hari yang merupakan kemasan karnaval yang belum ada atau belum pernah diselenggarakan di Indonesia, kecuali di Djogdjakarta. Tuntutan penghadiran teknologi, komposisi bentuk, ragam warna dan siraman cahaya menjadi hal utama dalam mewujudkan kemeriahan dan keceriaan malam. Kemajemukan dari semua bentuk di atas, ditambah dengan akan berkumpulnya artis-artis penampil dan para penikmat karnaval dari berbagai pelosok wilayah Djogdjakarta, Indonesia, bahkan luar negeri itulah yang disatukan dalam sebuah keselarasan …sebuah harmonisasi…harmonisasi di malam hari …dan hanya terjadi di Djogdjakarta.

Sabtu, Agustus 13, 2011

Roemah Pelantjong Gelar Pameran “Sajadah dan Kerudung”

Sumber: Kapanlagi
Mulai tanggal 12 Agustus hingga Lebaran, Roemah Pelantjong di Djogdjakarta menggelar sebuah acara esklusif berupa pameran “Sajadah dan Kerudung”. Pameran unik ini digagas Roemah Pelantjong sebagai salah satu event untuk merayakan Ramadhan 2011. Event seperti ini direncanakan akan dilakukan secara teratur di bulan-bulan berikutnya dengan berbagai tema kreatif dan unik.

Kurator senior Roemah Pelantjong, KAFI KURNIA mengatakan bahwa Roemah Pelantjong akan terus menerus menggali berbagai kekayaan budaya dan etnik Indonesia dan mengangkatnya menjadi sebuah event seni, semata-mata sebagai gerakan motivasi untuk membangkitkan gairah para pengrajin untuk terus menerus berinovasi.

KAFI KURNIA, berharap misi dan visi Roemah Pelantjong – Djogdjakarta sebagai sebuah kawah candradimuka untuk menggagas inovasi dan kreativitas karya-karya kontemporer akan terus berkelanjutan dan bisa sekaligus memposisikan Djogdjakarta sebagai tujuan utama pariwisata di ASIA.

Pameran “Sajadah dan Kerudung” sangat kritis dan strategis, karena walaupun jumlah produk yang dipamerkan sangat terbatas, namun pameran ini mampu menampilkan sebuah keberanian baru untuk berkreasi, terutama karena karya-karya yang ditampilkan mewakili desainer muda dengan interpretasi segar.

Sebagai contoh, Sajadah yang akrab dengan ritual berdoa dan shalat yang biasanya ditampilkan dalam tenunan permadani secara klasik, kini tampil berbeda dengan kain berkonsep perca yang unik. Sejarah teknik menjahit dengan perca, telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Awalnya barangkali adalah untuk menyelamatkan potongan-potongan sisa kain tua, lalu menjahitnya menjadi satu, dan menjadi kain yang lebih berguna seperti selimut. Itu sebabnya teknik ini banyak berkembang diberbagai jaman revolusi dan kolonial, ketika rakyat mengalami masa-masa sulit. Kain-kain yang disambung menjadi satu ini, awalnya tidak memerhatikan motif dan bentuk, tampil seadanya. Lalu berkembang menjadi keragaman motif yang memukau. Dan dikenal dalam berbagai budaya etnik, mulai dari Mesir, Rusia hingga Amerika.

Sajadah yang ditampilkan di Roemah Pelantjong, kali ini adalah juga karya seorang pengrajin Ibu rumah tangga dari Jakarta, yang awalnya bereksperimen dengan sisa kain. Lalu dikembangkan dengan menggunakan kain dan bahan berkualitas tinggi, menampilkan motif mozaik dengan warna dan desain kontemporer. Dibuat dengan bantuan perangkat lunak modern dan tingkat ketepatan (presisi) yang sangat tinggi, masing-masing sajadah yang dibuat mempunyai kekhasan tersendiri, tidak ada yang sama persis.

Produk kedua yang dipamerkan adalah kerudung. Sebuah asesori yang dipakai kaum perempuan dalam berbagai agama termasuk Islam. Kerudung menampilkan perempuan dalam sosok yang khusuk dan anggun. Dalam berbagai budaya, kerudung seringkali dipakai dalam saat-saat penting seperti ketika berduka cita, atau peristiwa keagamaan yang sangat besar, termasuk Lebaran. Kali ini Roemah Pelantjong menampilkan dua sumbu desain yang sangat berbeda dan esklusif.

Yang pertama, Roemah Pelantjong bekerja sama dengan seorang desainer muda asal Djogdjakarta menampilkan desain batik kontemporer, yang membuat interpretasi, baik gaya, warna dan motif yang baru. Desain kedua sangat tumpul dan lebih mono-krome, yaitu berupa aneka kerudung terbuat dari sutra liar. Tampil dalam warna yang sangat sederhana, apa adanya namun berkonsep ramah lingkungan yang berbeda. Esklusifitas dalam kesederhanaan alam. Keduanya menampilkan sebuah harmonisasi dan integritas yang baru dan segar.

Sebagai bonus, kurator senior Roemah Pelantjong, KAFI KURNIA, juga menampilkan berbagai sarung dengan warna-warna yang berlawanan dengan desain klasik terdahulu. Motif sarung secara klasik yang sangat maskulin, berupa garis yang berpotongan membentuk kotak, sangat tradisional, dikenal bukan saja di Indonesia, tetapi juga dibeberapa negara. Motif desain yang dikenal sebagai ‘tartan’ ini, misalnya dikenal secara filosofis dan mengakar di Scotlandia dan Amerika. Uniknya bagaimana motif tartan bisa masuk dalam motif sarung di Indonesia, masih menjadi misteri tersendiri. Beberapa rumah mode di luar negeri musim panas 2011, kembali mengangkat motif ‘tartan’ dalam berbagai desain.

Sarung yang ditampilkan Roemah Pelantjong, walaupun masih mengakar pada desain ‘tartan’ yang klasik namun dengan tampilan warna yang sangat bergairah dan ‘festive’. Tampilan warna yang sangat berani ini dimaksud sebagai arahan modis yang baru.

ROEMAH PELANTJONG dengan pameran mini ‘Sajadah dan Kerudung’ berusaha menampilkan sebuah kesegaran yang baru, dengan gaya bergagas inovatif. Menjadikan Lebaran menjadi lebih marak namun sekaligus punya arti yang lebih dalam. (cg/pr/wim)

Minggu, Agustus 07, 2011

Kafi Kurnia: Sensasi Bamboo Sauruss

Sumber: Gatra

JAKARTA-Ingin suasana berbeda sambil menunggu bedug buka puasa, silahkan datang ke Pacific Place! Di sana Anda akan menemukan suasana masa silam yang romantik. Adalah kelompok perupa Q+ atau Q‐Plus, yang mencoba menghidupkan suasana purba dengan ekspresi masa kini. Mereka menggagas ritual puasa ini dengan sebuah perjalanan spiritual yang sangat unik. Sebuah patung T‐ Rex yang telah punah, kembali dihidupkan dan dibuat dari anyaman bamboo setinggi 3 meter.

Patung T‐Rex dari anyaman bamboo ini lalu diberi motif batik parang, dan rencananya akan di pamerkan di Pacific Place selama bulan Puasa. Patung ini diberi nama Bamboo Sauruss. Gagasan ini pertama kali diungkap, Andi Ramdani dari Q+, lalu bergulir menjadi sebuah ide kolaborasi bersama Ikro’ Ahmad Ibrahim, Anton Win, Didi ‘797’, Sunardi St, Tri Pandrong, Fandi Panda, dan Akbar Bangkit.

Kafi Kurnia, kurator dari Lentur Gallery di Roemah Pelantjong – Djogdjakarta menjelaskan bahwa Bamboo Sauruss merupakan sebuah simbolisasi perjalalanan spiritual untuk sebuah preservasi iman dan pencarian jati diri kembali (reinventing oneself). Itu sebabnya Bamboo Sauruss diberi tambahan embel‐embel thema “A Renewable Faith”.

Bamboo Sauruss menurut KAFI KURNIA sarat makna dan perlambang. T‐Rex sang dinosaurus yang telah jutaan tahun punah adalah simbolisasi titik awal. Simbolisasi ini misalnya dalam sebuah pertunjukan wayang kulit selalu dihadirkan dalam bentuk gunungan. Bamboo Sauruss setinggi 3 meter ini juga merupakan simbolisasi gunungan secara kontemporer.

Simbolisasi gunungan bukanlah sebuah sikap sombong dan arogan. Melainkan sebuah titik awal untuk merenung, meditasi dan introspeksi. Orang‐orang zaman dahulu sudah menggunakan bentuk gunung ini untuk barang sehari‐hari seperti caping, topi bambu berbentuk kerucut, sehingga air hujan tidak mengganggu kepala, akan tetapi mata tetap dapat memandang dengan leluasa.

Selanjutnya, atap rumah joglo, yang menunjukkan bahwa pusat bangunan dengan lantai tertinggi terlelak di pusat, dibawah puncak atap dan merupakan tempat berdoa yang paling efektif. Nasi tumpeng juga berbentuk kerucut, dan puncaknya dipersembahkan kepada pimpinan tertinggi dalam acara ritual. Payung kraton bertingkat tiga juga menggambarkan tingkatan dari kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu.

Istilah kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu adalah tingkatan dari gunung. Bagian kaki melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu,keinginan yang rendah, yaitu dunia manusia biasa.

Bagian tengah melambangkan Rupadhatu, yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari ikatan nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk, yaitu dunianya orang suci dan merupakan “alam antara” yang memisahkan “alam bawah” (kamadhatu) dengan “alam atas” (arupadhatu). Bagian atas, Arupadhatu, yaitu “alam atas” atau nirwana, dimana kebebasan mutlak telah tercapai, bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan rupa.
Jadi bentuk T‐Rex adalah gunungan secara kontemporer yang mengawali sebuah titik permulaan. Simbol kedua adalah bambu yang dianyam menjadi patung T‐rex. Bambu itu liat dan lentur. Meskipun berakar serabut, pohon bambu tahan terhadap terpaan angin kencang, dengan kelenturannya dia mampu bergoyang bak seorang penari balet, fleksibilitas itu lah bambu. gerak yang mengikuti arus angin ,tetapi tetap kokoh berdiri di tempatnya mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup walau penuh cobaan dan tantangan, namun tidak kaku.

Bambu juga dapat di simbolkan sebagai sebuah siklus hidup manusia, contohnya setelah tunas tumbuh lalu keluar lah rebung, dan lalu besar bertunas dan menjulang tinggi. ini mengajarkan bagaimana kita perlu proses untuk menjadi lebih baik, dengan kesabaran, ketekunan, kegigihan dalam berusaha. Itu lah yang akan menjadi pintu kesuksesan seseorang.

Walaupun mungkin standar kesuksesan berbeda setiap orang, tapi itu bisa mengajarkan kita bagaimana cara berproses, hidup bukan sesuatu yang instan tapi dia berproses, tinggal bagaimana kita bisa menjadikan proses ini menjadi lebih berguna bagi kita semua.

Manfaat bambu yang sangat luar biasa, menjadikan juga bambu sebagai sebuah bahan baku ramah lingkungan dan yang selalu terbarukan. Siklus dan proses yang disimbolkan oleh bambu menjadi inti perjalanan spiritual kita bersama saat berpuasa. Menemukan diri kita yang sesungguhnya dan melahirkannya kembali dalam sebuah kesucian yang baru. Yang lebih baik. Yang lebih manusiawi.

Simbol terakhir adalah motif batik parang. Motif batik parang memiliki filosofi yang sangat dalam terkandung di dalamnya dan tidak sesederhana motifnya. Parang berasal dari kata pereng, yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.

Susunan motif leter S jalin‐menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar leter S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam. Batik parang memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi berupa petuah agar tidak pernah menyerah sebagaimana ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik parang pun menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik itu dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga di mana batik parang di masa lalu merupakan hadiah dari bangsawan kepada anak‐anaknya.

Dalam konteks tersebut, motif parang mengandung petuah dari orang tua agar melanjutkan perjuangan yang telah dirintis. Garis lurus diagonal melambangkan rasa hormat dan keteladanan, serta kesetiaan pada nilai‐nilai kebenaran Introspeksi diri, menyadari proses dan siklus kedewasaan, serta perjuangan dengan semangat tidak pernah padam menjadikan BAMBOO SAURUSS, sungguh sebuah perjalanan spiritual yang unik di bulan puasa ini. Rencananya BAMBOO SAURUSS setelah dipamerkan akan dilelang dan hasilnya akan disumbangkan untuk misi‐misi social (dwt).