Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 24, 2012

Keajaiban Mitos Naga



Sleman - Naga adalah hewan yang sampai sekarang belum bisa dibuktikan keberadaannya, akan tetapi ajaibnya diberbagai belahan dunia mempercayai mitos Naga ini. Mengenai bentuknya seperti hewan apa naga itu, kebanyakan menggambarkannya dengan seekor ular besar dengan kepala menyerupai singa. Di dunia belahan barat dan timur mempunyai versi masing-masing cerita tentang mitos naga.

Bertepatan dengan menjelang perayaan Imlek yang akan memasuki tahun Naga Air, Rumah Pelantjong menggelar pameran bermacam-macam barang hasil karya seni bertemakan naga, Minggu (22/01) pagi. Mulai dari lukisan, kerajinan kulit, gaun dan kain batik asli dari Jogjakarta. Kain batik yang paling unik adalah batik yang berasal dari Imogiri yaitu batik dengan teknik "nitik". Sesuai dengan namanya, teknik batik ini menghasilkan gambar dari susunan titik-titik sehingga membentuk gambar naga.

Pameran yang dibuka oleh Kartika Affandi ini mengambil tema "Naga Djawi". Di Jogjakarta sendiri simbol naga juga sudah ada sejak dulu, simbol yang memiliki arti kekuatan ini tertuang dalam ornamen rumah jaman dulu hingga keraton. Simbol naga juga dipakai pada ornamen keris, rangka gamelan, hingga kain gendong jaman dulu yang sering dikenal dengan sayuk. "Ini membuktikan bahwa naga bukan milik orang Cina saja, naga milik kita semua terbukti dengan adanya simbol-simbol naga diseluruh penjuru dunia termasuk Jawa" ujar Kafi Kurnia, kurator Rumah Pelantjong.

Acara yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini juga menghadirkan kuliner khas bernuansa naga yaitu Bakpia Djanggut Naga dan fashion show baju dengan kain motif naga. Hiburan liong dan barongsai yang atraktif oleh kelompok Naga Selatan, menutup acara pembukaan pameran bertema "Naga Djawi" ini. (Sc) Sumber: jogjanews.com

Pameran Naga Jawi


Sleman, www.jogjatv.tv  Menyambut Tahun Baru Cina atau Imlek, pada hari Minggu (22/1) pagi, Roemah Pelantjong menggelar Pameran “Naga Jawi” yang menyajikan beraneka macam kegiatan unik. Pameran yang dibuka oleh Kartika Affandi ini menampilkan kesenian naga barongsai, dan juga peluncuran bakpia unik, yakni bakpia janggut naga yang merupakan produksi edisi terbatas.
Dalam pameran tersebut, Roemah Pelantjong juga menyuguhkan kegiatan fashion show dari perancang asal Magelang, Tatok Prihasmanto. Fashion show bertema naga ini menampilkan gaya berbusana sederhana dalam potongan dan detail gaya Cina dengan material tradisional berupa jarik gendong. Di lantai 2, Roemah Pelantjong juga dmenampilkan pameran foto, lukisan, t-shirt, kuliner dan marchandise dengan visual Naga Jawi. (Ernyta – Abdul Maarif / Riza)

Selasa, November 29, 2011

Liputan6.tv :: Dengan Bambu Melestarikan Orangutan ::

Foto: Antara
 Liputan6.tv :: Dengan Bambu Melestarikan Orangutan ::

Andi Ramdani sedang mengerjakan pembuatan orangutan raksasa setinggi lima meter di Roemah Pelantjong, Jl. Magelang, Yogyakarta, Sabtu (26/11).

Pembuatan orang utan dengan bahan bambu setinggi lima meter tersebut sebagai bentuk sikap untuk menolak pembantaian orangutan di Kalimantan.

Senin, November 21, 2011

Kartika pun Menyoal Keperjakaan

PADA awal Agustus 2002 lalu, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Latihan Bisnis dan Humaniora (LSC&K Pusbih), IipWijayanto, membeberkan kepada wartawan di DPRD DIY, bahwa 97,05 persen mahasiswi dari 1.660 responden di Yogyakarta tak lagi perawan. Dengan kata lain, persentase tersebut menunjukkan, mayoritas mahasiswi di Yogyakarta pernah melakukan inter-course seks pranikah selama kuliah.

Nyaris ingin menggambarkan kisah serupa, Kartika Catur Pelita, justru mengungkap sebaliknya. Novelis asal Jepara ini meluncurkan novel perdananya berjudul Perjaka. "Novel perdana ini saya tulis berdasarkan fenomena tentang arti keperjakaan. Sebab, yang sering digunjingkan itu berkenaan dengan keperawanan dan belum ada yang menguak mengenai keperjakaan," demikian ia menerangkan novel setebal sekitar 200 halaman dan diterbitkan oleh Andalan Krida Nusantara ini.

Tema keperjakaan berdekatan dengan seluk-beluk kehidupan remaja masa kini yang lazim terjerat kasus seks bebas. Demikian halnya dengan keperawanan, keperjakaan juga perlu dipertanyakan.

"Novel ini adalah ide yang telah mengendap sejak lama. Nyaris diterbitkan pada 2009 namun gagal, akhirnya melalui beberapa lobi, novel ini hadir juga di khalayak," tuturnya lega.

Jumat  (18/11) malam di Roemah Pelantjong, Perjaka diluncurkan. Dihadirii Kafi Kurnia, Aliya Swastika, dr. Budi Pratiti, dan Sholahuddin Noorazmy. "Novel yang paling kocak dan paling lucu pada abad ini," ucap Kafi Kurnia.

Sepertinya, penulis ingin mengungkap fenomena kehidupan seks kaum remaja lewat buku ini, namun kemasannya sengaja dibuat jenaka, sehingga sedikit mengurangi tensi sebagian masyarakat yang sensitif terhadap masalah seks dan kebebasannya.

Tentu, tampak dari niat yang gigih, penulis ingin menjadikan buku ini sebagai tuntunan positif melalui konflik dan dialog yang disuguhkan.

Bagaimanapun, berbicara mengenai keperjakaan memang terasa awam di telinga mayoritas masyarakat. Sebaliknya, keperawanan menjadi cibiran klasik yang terkadang membuat sekat labirin antara perilaku remaja pria dan wanita.

Perjaka seolah berusaha mengikis ketidakadilan posisi keperawanan dan keperjakaan dalam dunia nyata lewat banyolan Kartika Catur Pelita. (Sigit Widya)

Senin, Oktober 24, 2011

Yogya Pelan Dalam Mural

Foto-foto: tuyuloveme.blogspot.com
Sumber: Kedaulatan Rakyat

KARYA street art seringkali dipandang sebelah mata. Terpampang di pinggir jalan tanpa apresiasi yang layak. Tak jarang, karya tersebut dianggap merusak keindahan kota karena dilukis pada tembok-tembok yang menjadi ruang publik.

Parahnya, seniman street art dituding sebagai pelaku kriminal karena dianggap berbuat vandalisme. Pandangan salah tersebut coba diluruskan dalam ‘Djogjakarta Slowly Asia’ yang digelar di Rumah Pelantjong mulai Kamis (20/10).

Seniman street art Yogya diwadahi untuk berkarya dalam ‘kanvas’ tembok sepanjang 700 meter persegi. Mereka yang turut dalam pergelaran ini, Sucktrash, What1204, Nside, Vayne, Muck, Oaker, Nick, Ant, Oyster, Bigshow, Tragic, Blame, Rubseight dan Tuyuloveme.

Tema besar yang diangkat, menjadikan Yogya sebagai ibukota Pelan. Kurator Djogjakarta Slowly Asia, Kafi Kurnia mengungkapkan bahwa karya street art menampilkan kejujuran karena dipajang di jalanan dan berada di ranah publik. Seniman street art berkarya untuk mengubah paradigma negatif menjadi hal positif.

“Tentunya karya seni tersebut harus dinikmati dengan pelan, karena ukuran karya seringkali teramat besar,” ujarnya. Pelan di sini, berbeda dengan lambat. Pelan bermakna menikmati kehidupan dengan kemewahan. Pasalnya, manusia saat ini cenderung tergesa-gesa dalam melakoni apa pun karena merasa tidak memiliki waktu banyak.


Kafi menegaskan bahwa street art sejajar dengan karya seni lain. Meski berbeda media untuk penyaluran kreativitas tersebut, street art lebih dari kenakalan walau ditampilkan lugas. Karya seniman Yogya, lanjutnya, bisa menjadi referensi dari seniman daerah lain karena memiliki ciri khas yang kental. Dalam satu lorong di Rumah Pelantjong, tertulis tegas ‘Welcome To Minioboro.’ Ada harapan, agar panggung seniman terpinggirkan ini selayak Malioboro, menjadi kantong budaya baru, yang tercipta dengan pelan namun pasti. (*-7)-k

Minggu, Oktober 23, 2011

Pameran Street Art "Djogdjakarta Slowly Asia"


Sumber: RRI
Ditangan seniman kreatif, mural dan street art berhasil memperindah kota Yogyakarta dan juga telah menyematkan dukungan predikat Yogyakarta sebagai Kota Budaya ditengah suasana kesemrawutan grafis kota yang cenderung tak teratur dan tidak memiliki konsep estetika kota, antara penghuni kota dengan lingkungan disekitarnya. Mural dan street art berhasil meredam teror visual iklan komersial sehingga gerakan memuralkan dan men-street-art-kan ruang publik layak mendapatkan acungan jempol.

Street Art di Roemah Pelantjong

Teks dan Foto: Budi W. Gudeg.net

Street Art semacam mural (grafity) kalau dilakukan ditempat publik bisa dikategorikan vandalisme. Namun, Roemah Pelantjong memberikan media bagi para Street artists untuk mengekspresikanya. Ide ini digagas oleh Kafi Kurnia selaku CEO Roemah Pelantjong.

Pameran Street Art "Djogjakarta Slowly Asia" memang memiliki tujuan mulia agar para perupa street art bisa memiliki media dan bebas untuk mengekspresikannya.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya memberikan luasan dinding sebanyak 700 m kepada mereka yang ingin "bercorat-coret" secara bebas. Tidak hanya itu, di Roemah Pelantjong juga terdapat Minioboro, semacam mininya Malioboro.

Dinding-dinding yang dahulunya polos kini terisi gambar grafity yang bagus-bagus. Sebut saja Rubs8, Vayne, Nsideone, Sucktrash dan lian sebagainya.

Tidak hanya menikmati mural saja yang bisa Anda nikmati, Anda juga bisa berbelanja aneka macam oleh-oleh yang dipampang di Roemah Pelantjong. Batik, kaus, aneka makanan olahan bisa Anda borong disana.

Selasa, Oktober 18, 2011

Ini Dia Djogdjakarta Slowly Asia

Sumber: Jalanjalannews.blogspot.com

APA SIH Djogdjakarta Slowly Asia? Belakangan kok banyak diperbincangkan di sosial media, ya. Penasaran? Yaks, pada Kamis, 20 Oktober 2011, mulai jam 12.00 WIB Pameran Street Art bertema Djogdjakarta Slowly Asia ini akan diluncurkan. Pameran ini merupakan rangkaian dari Djogdjakarta Bienalle XI yang akan dimulai di Roemah Pelantjong, Jalan Magelang KM 8 Djogdjakarta.

Setelah peluncuran besok, pada jam 16.00 WIB-nya, acara akan dilanjutkan dengan open house untuk masyarakat umum. Selanjutnya, akan ada pagelaran Hip Hop Jawa dengan penampilan 10 grup yang akan menampilkan atraksi unik bernuansa jawa Kontemporer.

Lagi-lagi, apa sih Djogdjakarta Slowly Asia? Hehehe. ini jawabannya. Kurator sekaligus CEO Roemah Pelantjong, Kafi Kurnia akan menceritakan panjang lebar. Belum lama ini di New York, ia bertemu beberapa kurator gallery seni rupa kontemporer. Dalam pertemuan itu, ia berbincang-bincang soal street art, mulai dari Keith Haring, Banksy, Sickboy, D’Face, JR, Nunca hingga Shepard Fairey. Obrolan sangat seru hingga larut malam. "Sebelum tidur, saya masih tercekam dengan salah satu komentar rekan saya, bahwa – “Street Art – Never a Secret”.

Motto ini, katanya, bukanlah sesuatu yang baru. Malah sering dijumpai dalam banyak graffiti di kota-kota besar. Terpampang antara dinding kosong, entah itu dikolong jembatan atau pada bekas pabrik yang ditinggalkan. Berlainan dengan seni-seni halus yang memerlukan podium formal seperti galeri dan museum, maka “street art” adalah bentuk seni yang memilih podium “Exhibitionist” yang terbuka dan menantang. Sehingga menjadi sangat publik.

Itulah sebabnya, “street art” tidak pernah menjadi sebuah rahasia. Bagi banyak pelakunya, “street art” memang masih menjadi sebuah kanal pelampiasan. Anggaplah seperti sebuah masturbasi seni. Jadi jangan heran apabila mereka dimusuhi aparat, terlebih apabila seni yang ditampilkan cuma sekedar corat-coret, yang tidak mengindahkan keindahan dan lingkungan sekitar. Baru belakangan ini saja, artis-artis besar “street art” tampil dengan komposisi sosial yang cerdas, yang tidak jarang meledek dengan humor yang dalam. Maka apresiasi terhadap “street art” mulai meradang hingga ke nilai komersialisasi yang menyaingi seni seni kontemporer lain-nya.

Pameran Street Art “Djogdjakarta Slowly Asia” yang digagas Lentur Gallery/Roemah Pelantjong di Djogdjakarta dimaksudkan menjadi sebuah batu apung baru yang memunculkan keberanian dan pengakuan atas kehadiran sejumlah perupa “street art” Indonesia (selusin jumlahnya), yang bersama-sama mewujudkan sebuah coretan raksasa sepanjang lebih dari 40 meter dalam sebuah kenakalan bersama mengusung Djogdjakarta menjadi pusat turisme dunia yang baru dengan slogan : “Djogdjakarta Slowly Asia”.

Pameran “street art” ini akan menjadi pameran tetap, karena uniknya karya yang terpampang di selasar ini akan dijadikan sebuah pusat kerajinan cindera mata khas Djogdjakarta yang nantinya akan disebut dengan Minioboro alias Mini Malioboro. Mengamati tampilan karya 12 perupa “street art” Djogdjakarta ini, kita diajak menjelajahi sebuah emosi yang terpigura dalam sebuah selimut perca, dengan batas-batas naratif dan visual. Antara yang gamblang, dan yang tersirat. Dan antara yang tampil dan yang tersamar. Tantangan berikutnya tentulah nanti ketika selasar “street art” ini berinteraksi dengan orang banyak. Menguak dan menyentil emosi. "Menggelitik syaraf kita. Lalu meninggalkan kesan. Utuh atau sepenggal. Apapun bentuknya," ujarnya.

"Bagi saya sendiri kenikmatan bercengkrama dengan “street art” – Djogdjakarta Slowly Asia adalah pada kejengahan pola pikir dan interpertasi, bahwa rahasia dan kesucian “street art” memang tidak pernah ada. Sebuah ketelanjangan baru. Yang mengundang tanya dan takjub," kata Kurnia dalam siaran pers.

Kamis, Agustus 25, 2011

Pelan untuk pelancong


Sumber: Esquire
Ide kreatif Kafi Kurnia dan beberapa temannya membuahkan sebuah sebutan baru bagi kota Yogyakarta. Mereka memproklamasikan Yogyakarta sebagai Ibukota Pelan di dunia. Bukan sebagai ejekan atau pelecehan, tapi justru aksi ini dilakukan sebagai bentuk pemasaran pariwisata kota Yogya. Sebagai dukungan aksinya, Kafi dan temantemannya, mendirikan sebuah pasar swalayan ‘pelan’ pertama di dunia di areal seluas 1500 meter persegi yang diberi nama Roemah Pelancong. Anda bisa menikmati minuman pelan, makanan pelan, musik pelan, permainan pelan, seni pelan, dan bahkan, oleh-oleh pelan, di tempat ini. Hal lainnya yang bisa Anda nikmati adalah galeri tetap Ismail Kribo, artis komik dan karikatur koran Kompas Minggu. Penasaran? Ayo, segera ke kota terpelan di dunia ini.

Selasa, Agustus 16, 2011

Ahmad Faisal Ismail: Berkibar Bersama Sukribo

Sumber: HenryKomik

Nama lengkapnya Ahmad Faisal Ismail, tapi ia lebih populer dengan nama Mail Sukribo. Mail memang pencipta tokoh kartun Sukribo yang secara berkala muncul di Kompas edisi Minggu. Bahkan, Sukribo jua sudah mucul di kaus, mug, dan lainnya. Ia juga punya studio Sebikom yang mengerjakan berbagai karya ilustrasi.

Minggu, Agustus 07, 2011

Kafi Kurnia: Sensasi Bamboo Sauruss

Sumber: Gatra

JAKARTA-Ingin suasana berbeda sambil menunggu bedug buka puasa, silahkan datang ke Pacific Place! Di sana Anda akan menemukan suasana masa silam yang romantik. Adalah kelompok perupa Q+ atau Q‐Plus, yang mencoba menghidupkan suasana purba dengan ekspresi masa kini. Mereka menggagas ritual puasa ini dengan sebuah perjalanan spiritual yang sangat unik. Sebuah patung T‐ Rex yang telah punah, kembali dihidupkan dan dibuat dari anyaman bamboo setinggi 3 meter.

Patung T‐Rex dari anyaman bamboo ini lalu diberi motif batik parang, dan rencananya akan di pamerkan di Pacific Place selama bulan Puasa. Patung ini diberi nama Bamboo Sauruss. Gagasan ini pertama kali diungkap, Andi Ramdani dari Q+, lalu bergulir menjadi sebuah ide kolaborasi bersama Ikro’ Ahmad Ibrahim, Anton Win, Didi ‘797’, Sunardi St, Tri Pandrong, Fandi Panda, dan Akbar Bangkit.

Kafi Kurnia, kurator dari Lentur Gallery di Roemah Pelantjong – Djogdjakarta menjelaskan bahwa Bamboo Sauruss merupakan sebuah simbolisasi perjalalanan spiritual untuk sebuah preservasi iman dan pencarian jati diri kembali (reinventing oneself). Itu sebabnya Bamboo Sauruss diberi tambahan embel‐embel thema “A Renewable Faith”.

Bamboo Sauruss menurut KAFI KURNIA sarat makna dan perlambang. T‐Rex sang dinosaurus yang telah jutaan tahun punah adalah simbolisasi titik awal. Simbolisasi ini misalnya dalam sebuah pertunjukan wayang kulit selalu dihadirkan dalam bentuk gunungan. Bamboo Sauruss setinggi 3 meter ini juga merupakan simbolisasi gunungan secara kontemporer.

Simbolisasi gunungan bukanlah sebuah sikap sombong dan arogan. Melainkan sebuah titik awal untuk merenung, meditasi dan introspeksi. Orang‐orang zaman dahulu sudah menggunakan bentuk gunung ini untuk barang sehari‐hari seperti caping, topi bambu berbentuk kerucut, sehingga air hujan tidak mengganggu kepala, akan tetapi mata tetap dapat memandang dengan leluasa.

Selanjutnya, atap rumah joglo, yang menunjukkan bahwa pusat bangunan dengan lantai tertinggi terlelak di pusat, dibawah puncak atap dan merupakan tempat berdoa yang paling efektif. Nasi tumpeng juga berbentuk kerucut, dan puncaknya dipersembahkan kepada pimpinan tertinggi dalam acara ritual. Payung kraton bertingkat tiga juga menggambarkan tingkatan dari kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu.

Istilah kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu adalah tingkatan dari gunung. Bagian kaki melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu,keinginan yang rendah, yaitu dunia manusia biasa.

Bagian tengah melambangkan Rupadhatu, yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari ikatan nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk, yaitu dunianya orang suci dan merupakan “alam antara” yang memisahkan “alam bawah” (kamadhatu) dengan “alam atas” (arupadhatu). Bagian atas, Arupadhatu, yaitu “alam atas” atau nirwana, dimana kebebasan mutlak telah tercapai, bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan rupa.
Jadi bentuk T‐Rex adalah gunungan secara kontemporer yang mengawali sebuah titik permulaan. Simbol kedua adalah bambu yang dianyam menjadi patung T‐rex. Bambu itu liat dan lentur. Meskipun berakar serabut, pohon bambu tahan terhadap terpaan angin kencang, dengan kelenturannya dia mampu bergoyang bak seorang penari balet, fleksibilitas itu lah bambu. gerak yang mengikuti arus angin ,tetapi tetap kokoh berdiri di tempatnya mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup walau penuh cobaan dan tantangan, namun tidak kaku.

Bambu juga dapat di simbolkan sebagai sebuah siklus hidup manusia, contohnya setelah tunas tumbuh lalu keluar lah rebung, dan lalu besar bertunas dan menjulang tinggi. ini mengajarkan bagaimana kita perlu proses untuk menjadi lebih baik, dengan kesabaran, ketekunan, kegigihan dalam berusaha. Itu lah yang akan menjadi pintu kesuksesan seseorang.

Walaupun mungkin standar kesuksesan berbeda setiap orang, tapi itu bisa mengajarkan kita bagaimana cara berproses, hidup bukan sesuatu yang instan tapi dia berproses, tinggal bagaimana kita bisa menjadikan proses ini menjadi lebih berguna bagi kita semua.

Manfaat bambu yang sangat luar biasa, menjadikan juga bambu sebagai sebuah bahan baku ramah lingkungan dan yang selalu terbarukan. Siklus dan proses yang disimbolkan oleh bambu menjadi inti perjalanan spiritual kita bersama saat berpuasa. Menemukan diri kita yang sesungguhnya dan melahirkannya kembali dalam sebuah kesucian yang baru. Yang lebih baik. Yang lebih manusiawi.

Simbol terakhir adalah motif batik parang. Motif batik parang memiliki filosofi yang sangat dalam terkandung di dalamnya dan tidak sesederhana motifnya. Parang berasal dari kata pereng, yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.

Susunan motif leter S jalin‐menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar leter S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam. Batik parang memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi berupa petuah agar tidak pernah menyerah sebagaimana ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik parang pun menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik itu dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga di mana batik parang di masa lalu merupakan hadiah dari bangsawan kepada anak‐anaknya.

Dalam konteks tersebut, motif parang mengandung petuah dari orang tua agar melanjutkan perjuangan yang telah dirintis. Garis lurus diagonal melambangkan rasa hormat dan keteladanan, serta kesetiaan pada nilai‐nilai kebenaran Introspeksi diri, menyadari proses dan siklus kedewasaan, serta perjuangan dengan semangat tidak pernah padam menjadikan BAMBOO SAURUSS, sungguh sebuah perjalanan spiritual yang unik di bulan puasa ini. Rencananya BAMBOO SAURUSS setelah dipamerkan akan dilelang dan hasilnya akan disumbangkan untuk misi‐misi social (dwt).

Sabtu, Juli 23, 2011

Indonesia Bermain Tutup Putaran Pertama Road Play di Yogya

Sumber: VGI
Putaran pertama Road Play, sebutan roadshow bagi Indonesia Bermain, baru saja terlewati. Lebih dari 200 orang menyambut Road Play secara antusias di tiga kota, yaitu Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Mengangkat tema berbagi semangat positive gaming, Road Play Indonesia Bermain mencoba untuk kembali mengingatkan tentang berbagai potensi besar dari aktivitas bermain.

Didukung oleh komunitas  Wedangan, Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) Chapter Jogja, Gamelan, dan berbagai komunitas kreatif lainnya, Road Play Yogya digelar pada tanggal 16 Juli 2011 lalu di Roemah Pelantjong, Yogyakarta. Marsudi, Creative Director dari PT Aseli Dagadu Djokdja, membuka sesi sharing pada acara tersebut.

Beliau mengungkap bahwa salah satu kunci dari segala pencapaian Dagadu adalah keleluasaan bagi seluruh staf untuk selalu bermain dan berkreasi dengan berbagai tema yang ada. Sesi sharing dilanjutkan oleh Eko Nugroho, yang menyampaikan bahwa sebenarnya kita sewaktu kecil banyak belajar lewat bermain.

Sharing darinya kemudian beliau tutup dengan berkata, "Untuk itulah sebenarnya Indonesia Bermain mencoba untuk hadir, demi kembali mengingatkan kita semua akan potensi bermain yang sesungguhnya." Di tiap kota penyelenggara Road Play, juga disampaikan informasi mengenai kompetisi yang akan menjadi salah satu rangkaian dari acara Indonesia Bermain.

Agate Studio dan Kummara sebagai penyelenggara, dengan dukungan Nokia Indonesia, akan menjaring berbagai game ideas (digital dan board game) serta mobile game ideas lewat Indonesia Bermain. Dalam hal ini, Nokia Indonesia sangat mendukung industri game di Indonesia untuk terus maju dan berkembang.

Menjelang weekend ini, Road Play putaran kedua dari Indonesia Bermain kembali akan berlangsung di tiga kota, yaitu Surabaya (21 Juli 2011), Bandung (23 Juli 2011), dan kemudian akan disusul oleh Jakarta pada tanggal 30 Juli 2011 nantinya. Informasi selengkapnya mengenai Road Play di kota-kota tersebut bisa diakses di http://indonesiabermain.com/roadshow/. (HKD)

Via: Agate Studio, Kummara Creative Studio