Tampilkan postingan dengan label Pameran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pameran. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 06, 2012

Lomba Foto From Djogdjakarta with Love

Tema
From Djogdjakarta with Love dengan materi bebas dan karya boleh diedit.

Hadiah 
Juara I Rp 1.000.000, Juara II Rp 750.000, Juara III Rp 500.000.

Pendaftaran Rp 85.000 (termasuk t-shirt From Djogdjakarta with Love) dan paling lambat
11 Februari 2011. 

Pengumpulan karya di Roemah Pelantjong Jl. Magelang km8 No. 89 Sleman Djogdjakarta dan Ray Digital Jl. Kolombo no.7 (Ruko Kolombo).

Penjurian akan dilaksanakan tanggal 12 Februari 2012 dengan sesi free foto hunting with model di Roemah Pelantjong. Info lebih lanjut hubungi Riri 081 575 170599, Chikon 081 741 07117 atau Iwan Ray Digital 081 938 124 234.

Selasa, Januari 24, 2012

Keajaiban Mitos Naga



Sleman - Naga adalah hewan yang sampai sekarang belum bisa dibuktikan keberadaannya, akan tetapi ajaibnya diberbagai belahan dunia mempercayai mitos Naga ini. Mengenai bentuknya seperti hewan apa naga itu, kebanyakan menggambarkannya dengan seekor ular besar dengan kepala menyerupai singa. Di dunia belahan barat dan timur mempunyai versi masing-masing cerita tentang mitos naga.

Bertepatan dengan menjelang perayaan Imlek yang akan memasuki tahun Naga Air, Rumah Pelantjong menggelar pameran bermacam-macam barang hasil karya seni bertemakan naga, Minggu (22/01) pagi. Mulai dari lukisan, kerajinan kulit, gaun dan kain batik asli dari Jogjakarta. Kain batik yang paling unik adalah batik yang berasal dari Imogiri yaitu batik dengan teknik "nitik". Sesuai dengan namanya, teknik batik ini menghasilkan gambar dari susunan titik-titik sehingga membentuk gambar naga.

Pameran yang dibuka oleh Kartika Affandi ini mengambil tema "Naga Djawi". Di Jogjakarta sendiri simbol naga juga sudah ada sejak dulu, simbol yang memiliki arti kekuatan ini tertuang dalam ornamen rumah jaman dulu hingga keraton. Simbol naga juga dipakai pada ornamen keris, rangka gamelan, hingga kain gendong jaman dulu yang sering dikenal dengan sayuk. "Ini membuktikan bahwa naga bukan milik orang Cina saja, naga milik kita semua terbukti dengan adanya simbol-simbol naga diseluruh penjuru dunia termasuk Jawa" ujar Kafi Kurnia, kurator Rumah Pelantjong.

Acara yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini juga menghadirkan kuliner khas bernuansa naga yaitu Bakpia Djanggut Naga dan fashion show baju dengan kain motif naga. Hiburan liong dan barongsai yang atraktif oleh kelompok Naga Selatan, menutup acara pembukaan pameran bertema "Naga Djawi" ini. (Sc) Sumber: jogjanews.com

Pameran Naga Jawi


Sleman, www.jogjatv.tv  Menyambut Tahun Baru Cina atau Imlek, pada hari Minggu (22/1) pagi, Roemah Pelantjong menggelar Pameran “Naga Jawi” yang menyajikan beraneka macam kegiatan unik. Pameran yang dibuka oleh Kartika Affandi ini menampilkan kesenian naga barongsai, dan juga peluncuran bakpia unik, yakni bakpia janggut naga yang merupakan produksi edisi terbatas.
Dalam pameran tersebut, Roemah Pelantjong juga menyuguhkan kegiatan fashion show dari perancang asal Magelang, Tatok Prihasmanto. Fashion show bertema naga ini menampilkan gaya berbusana sederhana dalam potongan dan detail gaya Cina dengan material tradisional berupa jarik gendong. Di lantai 2, Roemah Pelantjong juga dmenampilkan pameran foto, lukisan, t-shirt, kuliner dan marchandise dengan visual Naga Jawi. (Ernyta – Abdul Maarif / Riza)

Senin, Januari 23, 2012

Pameran Naga Jawa

Oleh: Kafi Kurnia

Tarikh Tiongkok yang berbasis lunar, pada tanggal 23 Desember 2012, memasuki sebuah awalan baru, yaitu tahun Naga. Atau lebih dikenal dengan Shio Naga. Shio dalam penanggalan Tiongkok selalu berlambang hewan. Dan ada 12 shio dalam satu siklus. Naga adalah shio ke lima, dan tahun ini berdasarkan perhitungan Feng Shui, shio naga tahun 2012 dipengaruhi oleh elemen air.

Walaupun Naga merupakan hewan mistis, yang diciptakan berdasarkan legenda, penokohan naga ada dalam budaya barat dan timur. Meskipun bentuk penokohan-nya sangat berbeda. Naga yang merupakan simbol kekuatan kini dipengaruhi air yang sangat lentur dan mudah berubah bentuk. Maka tahun 2012 dipercaya akan menjadi tahun yang sangat unik. Sebuah awal dari sebuah peradaban baru dengan kekuatan baru. Setelah gejolak di Timur Tengah, dan wafatnya sejumlah diktator di tahun 2011. Maka 2012 dipercaya akan memunculkan kekuatan-kekuatan baru.

Di tanah Jawa sendiri, penampakan dan penokohan Naga, sangat tidak asing. Berbagai ornamen lama di gedung-gedung tua, dan kraton, sarat dengan simbol-simbol naga. Termasuk didalam bentuk-bentuk keris, perabot rumah tangga serta ornamen gong dan gamelan. Uniknya motif naga juga sangat kaya dalam kain-kain tradisional seperti Batik. Dan bentuk penokohan dan penampakan naga tersebut sangat khas dengan budaya Jawa.

Roemah Pelantjong sebagai hub-kreatif di Djogdjakarta, yang memiliki misi untuk menjadikan Djogdjakarta sebagai tujuan pariwisata global berikutnya, mulai tanggal 22 Januari 2012 menggelar sebuah pameran unik. Yakni, gelaran  yang diberi nama NAGA DJAWI. Pameran ini merupakan event dengan menggelar sejumlah kegiatan;mulai dari kuliner, batik, lukisan, foto, t-shirt, hingga merchandise.

Pameran Naga Djawi menggelar peluncuran Bakpia Unik yaitu BAKPIA DJANGGUT NAGA. Bakpia yang berasal dari dialek HOKKIEN yang artinya kue berisi daging. Konon merupakan sebuah peristiwa kuliner unik. Karena berawal dari budaya Peranakan, kini BAKPIA telah berubah menjadi oleh-oleh khas asli Djogdjakarta. Bakpia sendiri memiliki sejumlah cerita awal yang berbeda-beda dan menjadi legenda tersendiri.

Salah satu cerita favorite, adalah kue yang dikenal dengan sebutan “Lou Pho Piang” – atau kue istri ini , berawal dari sebuah desa terpencil di Tiongkok. Saat itu sebuah penyakit misterius tengah menjadi wabah di seluruh desa. Ada sepasang suami istri yang orang tuanya terjangkit penyakit tersebut.

Maka sang istri bekerja siang dan malam untuk mencari uang untuk membeli obat. Sang suami tersentuh, lalu membuat kue istimewa untuk sang istri. Cerita itu menyebar cepat keseluruh negeri, dan menjadi perlambang cinta. Termasuk di Djogdjakarta. Dan untuk menyambut tahun NAGA, Roemah Pelantjong menyajikan Bakpia Djanggut Naga yang esklusif.

Pameran Naga Djawi juga menggelar sejumlah lukisan dari para artis “street art” yang sedang naik daun. Artis seperti Anton Win, Aji, Sabik, Rewhat, Alil dan Rudy. Dan sebuah lukisan anyar, dari kartunis asal Djogdjakarta – Sukribo. Lukisan yang berjudul “ROCK’N’ROLL DRAGON” menampilkan interpertasi dan dinamika negeri yang bergejolak untuk menunggangi sang naga, agar bisa dikendalikan. Dinamika dan pergerakan yang terlukiskan menunjukan enerji dan perjuangan yang berkesinambungan. Menunjukan semangat pantang menyerah yang ditata dalam humor khas Sukribo.

Hal langka yang juga unik adalah pameran kain tradisional. Yang pertama adalah pameran sejumlah kain tradisional yaitu batik asli Djogdjakarta. Sejumlah batik tulis dengan motif naga di buat oleh pengrajin dan artis batik di Bayat dan Bantul. Batik-batik ini dibuat hanya dalam satu warna atau mono-chrome yang tradisional. Dan dua warna yang sangat indah dan mempesona. Pameran Naga Djawi juga menampilkan batik nithik asli Imogiri. Batik tradisional ini sangat berbeda dalam cara pelukisan-nya, yaitu tidak dilukis melainkan dilakukan dengan cara menitik-kan sejumlah titik yang membentuk motif Naga.

Kain tradisional yang kedua adalah sayuk alias gendongan. Ini adalah kain khusus yang di buat dengan tekhnik batik, dan dipakai untuk menggendong bayi atau anak kecil. Kain tradisional ini selalu dibuat dengan warna-warna yang sangat menyolok dan diberi motif naga yang sangat kharismatik. Konon motif naga dimaksudkan, agar sang bayi atau anak mendapatkan kekuatan, enerji mistis dari sang Naga. Dan juga perlindungan yang seutuhnya dari yang maha kuasa.

Yang sangat istimewa dalam Pameran Naga Djawi adalah kreasi kreatif seorang desainer muda Tatox Christ asal Magelang, yang menggunakan bahan batik gendongan atau sayuk ini menjadi kreasi fashion seperti gaun dan kemeja yang bernilai tinggi. Sebuah upaya re-inventing kain tradisional menjadi sebuah karya baru yang sangat menarik.

Pameran Naga Djawi, dibuka oleh Ibu Kartika Affandi dengan pemotongan tumpeng Bakpia Djanggut Naga, dan dimeriahkan dengan fashion show karya Tatox Christ dan tarian Barongsai, dengan tujuan mendoakan agar tahun Naga air ini membawa rejeki dan berkat yang berlimpah.

Selasa, November 29, 2011

Liputan6.tv :: Dengan Bambu Melestarikan Orangutan ::

Foto: Antara
 Liputan6.tv :: Dengan Bambu Melestarikan Orangutan ::

Andi Ramdani sedang mengerjakan pembuatan orangutan raksasa setinggi lima meter di Roemah Pelantjong, Jl. Magelang, Yogyakarta, Sabtu (26/11).

Pembuatan orang utan dengan bahan bambu setinggi lima meter tersebut sebagai bentuk sikap untuk menolak pembantaian orangutan di Kalimantan.

Senin, Oktober 24, 2011

Yogya Pelan Dalam Mural

Foto-foto: tuyuloveme.blogspot.com
Sumber: Kedaulatan Rakyat

KARYA street art seringkali dipandang sebelah mata. Terpampang di pinggir jalan tanpa apresiasi yang layak. Tak jarang, karya tersebut dianggap merusak keindahan kota karena dilukis pada tembok-tembok yang menjadi ruang publik.

Parahnya, seniman street art dituding sebagai pelaku kriminal karena dianggap berbuat vandalisme. Pandangan salah tersebut coba diluruskan dalam ‘Djogjakarta Slowly Asia’ yang digelar di Rumah Pelantjong mulai Kamis (20/10).

Seniman street art Yogya diwadahi untuk berkarya dalam ‘kanvas’ tembok sepanjang 700 meter persegi. Mereka yang turut dalam pergelaran ini, Sucktrash, What1204, Nside, Vayne, Muck, Oaker, Nick, Ant, Oyster, Bigshow, Tragic, Blame, Rubseight dan Tuyuloveme.

Tema besar yang diangkat, menjadikan Yogya sebagai ibukota Pelan. Kurator Djogjakarta Slowly Asia, Kafi Kurnia mengungkapkan bahwa karya street art menampilkan kejujuran karena dipajang di jalanan dan berada di ranah publik. Seniman street art berkarya untuk mengubah paradigma negatif menjadi hal positif.

“Tentunya karya seni tersebut harus dinikmati dengan pelan, karena ukuran karya seringkali teramat besar,” ujarnya. Pelan di sini, berbeda dengan lambat. Pelan bermakna menikmati kehidupan dengan kemewahan. Pasalnya, manusia saat ini cenderung tergesa-gesa dalam melakoni apa pun karena merasa tidak memiliki waktu banyak.


Kafi menegaskan bahwa street art sejajar dengan karya seni lain. Meski berbeda media untuk penyaluran kreativitas tersebut, street art lebih dari kenakalan walau ditampilkan lugas. Karya seniman Yogya, lanjutnya, bisa menjadi referensi dari seniman daerah lain karena memiliki ciri khas yang kental. Dalam satu lorong di Rumah Pelantjong, tertulis tegas ‘Welcome To Minioboro.’ Ada harapan, agar panggung seniman terpinggirkan ini selayak Malioboro, menjadi kantong budaya baru, yang tercipta dengan pelan namun pasti. (*-7)-k

Minggu, Oktober 23, 2011

Pameran Street Art "Djogdjakarta Slowly Asia"


Sumber: RRI
Ditangan seniman kreatif, mural dan street art berhasil memperindah kota Yogyakarta dan juga telah menyematkan dukungan predikat Yogyakarta sebagai Kota Budaya ditengah suasana kesemrawutan grafis kota yang cenderung tak teratur dan tidak memiliki konsep estetika kota, antara penghuni kota dengan lingkungan disekitarnya. Mural dan street art berhasil meredam teror visual iklan komersial sehingga gerakan memuralkan dan men-street-art-kan ruang publik layak mendapatkan acungan jempol.

Street Art di Roemah Pelantjong

Teks dan Foto: Budi W. Gudeg.net

Street Art semacam mural (grafity) kalau dilakukan ditempat publik bisa dikategorikan vandalisme. Namun, Roemah Pelantjong memberikan media bagi para Street artists untuk mengekspresikanya. Ide ini digagas oleh Kafi Kurnia selaku CEO Roemah Pelantjong.

Pameran Street Art "Djogjakarta Slowly Asia" memang memiliki tujuan mulia agar para perupa street art bisa memiliki media dan bebas untuk mengekspresikannya.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya memberikan luasan dinding sebanyak 700 m kepada mereka yang ingin "bercorat-coret" secara bebas. Tidak hanya itu, di Roemah Pelantjong juga terdapat Minioboro, semacam mininya Malioboro.

Dinding-dinding yang dahulunya polos kini terisi gambar grafity yang bagus-bagus. Sebut saja Rubs8, Vayne, Nsideone, Sucktrash dan lian sebagainya.

Tidak hanya menikmati mural saja yang bisa Anda nikmati, Anda juga bisa berbelanja aneka macam oleh-oleh yang dipampang di Roemah Pelantjong. Batik, kaus, aneka makanan olahan bisa Anda borong disana.

Sabtu, Oktober 22, 2011

(Pengantar Pameran Street Art) Membaca Street Art dengan Smart


Di tangan seniman kreatif, mural dan street art berhasil memperindah kota Yogyakarta. Mural dan street art telah menyemaikan dukungan predikat Yogyakarta sebagai kota budaya, di tengah suasana kesemrawutan grafis kota yang cenderung tak teratur, dan tidak memiliki konsep estetika kota antara penghuni kota dengan lingkungan sekitarnya.

Mural dan street art berhasil meredam teror visual yang ditembakkan iklan komersial dan berujung sampah visual. Gerakan memuralkan dan me-streetart-kan ruang publik layak mendapatkan acungan dua jempol sekaligus. Mengapa gerakan mulia itu patut diberi dukungan sepenuh hati? Karena mural dan street art mampu memberikan nuansa bermakna indah di ruang publik. Keberadaan mural dan street art dapat difungsikan menjadi dekorasi kota yang menarik dan artisik.

Karena dihadirkan di ruang publik, maka mural dan street art juga memiliki konsekuensi moral sebagai sebuah karya publik. Di antaranya: siapa pun saja boleh melihat, siapa saja diperkenankan mengakses keberadaannya, serta siapa saja dapat menjadikannya sebagai latar belakang berfoto ria. Yang disebutkan di belakang tadi adalah sisi kebermanfaatannya. Sebaliknya, pada sudut lain, eksistensi karya mural dan street art yang menempati ruang publik harus merelakan diri untuk menerima berbagai bentuk kejahatan visual yang menganibal karya tersebut dengan karya lainnya. Pendeknya, keamanan karya mural dan street art sangat riskan atas serangan kamu vandalis.

Di luar masalah vandalisme terhadap karya mural dan street art di ruang publik, sejatinya keberadaannya perlu dipertimbangkan pula bagaimana kesinambungan perawatannya, agar karya tersebut tetap awet dan terjaga dengan baik.

Mengapa perihal perawatan mural dan street art menjadi penting? Karena sejujurnya, karya mural dan street art tidak terlalu jauh bedanya dengan karya grafis kota atau media outdoor. Dari sisi ketahanan bahan, karya mural dan street art memiliki rentang waktu batas ketahanan fisik berkisar 1-3 tahun. Batas ketahanan tersebut menyangkut materi yang digunakan, sebab semakin lama tentu semakin usang. Apalagi jika menggunakan cat yang tidak berkualitas serta tembok yang usang maka, cat sebagai material utama untuk memvisualkan karya mural dan street art akan mudah mengelupas sehingga objek yang dimuralkan dan di-streetart-kan tidak jelas lagi. Efek negatifnya, karya mural dan street art pun dapat dikategorikan sebagai sampah visual.

Untuk itu, agar kualitas karya mural dan street art dapat bertahan minimalnya 1-3 tahun mendatang, para seniman mural dan street art harus memilih tembok yang ada di ruang publik serta menggunakan cat yang berkualitas agar mural dan street art benar-benar menjadi sebuah dekorasi kota yang indah dan artistik.

Selain itu, agar keberadaan karya mural dan street art tidak diserang kaum vandalis yang suka merusak karya mural dan street art, maka para seniman dalam penggarapan mural dan street art, perlu juga melibatkan masyarakat sekitar. Termasuk di dalamnya melibatkan anak jalanan, pengamen, pedagang kakilima, dan tukang parkir di sekitar kawasan yang memasang karya mural dan street art. Hal ini perlu dilakukan demi menjaga kelangsungan sebuah karya mural dan street art secara sosial dan bermartabat.

Ketika karya mural dan street art ditorehkan ke dalam ruang publik maka partisipasi aktif dan keterlibatan masyarakat di sekitar lokasi mural dan street art tersebut sangat dibutuhkan. Manakala hal itu terwujud, maka masyarakat pun mendapat kepercayaan untuk menunjukkan rasa memiliki atas sebuah karya seni di ruang publik bernama mural dan street art.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana jadinya ketika karya mural dan street art yang wajarnya ditorehkan di ruang publik dengan serta dipindahkan ke dalam sebuah ruangan yang besar, bersih dan nyaman. Bagaimana pula cita rasa visualnya ketika karya mural dan street art dipajang di ruang pamer yang ditempatkan di bawah atap sejuk yang melindunginya dari pancaran terik matahari, tampias guyuran hujan, serta melindunginya dari serangan kaum vandalis?

Atas beragam pertanyaan tersebut, dengan jujur saya juga belum dapat menjawabnya. Tetapi yang jelas, dengan semangat positive thinking kita simak pameran mural dan street art berjuluk “DJOGDJAKARTA SLOWLY ASIA” Sebuah pameran mural dan street art yang digelar di Roemah Pelantjong Jl. Magelang KM.8 Yogyakarta sejak 20 Oktober 2011.

Selamat membaca karya mural dan street art dengan smart.

*) Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) adalah Pengamat Ruang Publik dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta.
**) Foto: Halaman Sumbo Tinarbuko di Facebook.

Selasa, Oktober 18, 2011

Ini Dia Djogdjakarta Slowly Asia

Sumber: Jalanjalannews.blogspot.com

APA SIH Djogdjakarta Slowly Asia? Belakangan kok banyak diperbincangkan di sosial media, ya. Penasaran? Yaks, pada Kamis, 20 Oktober 2011, mulai jam 12.00 WIB Pameran Street Art bertema Djogdjakarta Slowly Asia ini akan diluncurkan. Pameran ini merupakan rangkaian dari Djogdjakarta Bienalle XI yang akan dimulai di Roemah Pelantjong, Jalan Magelang KM 8 Djogdjakarta.

Setelah peluncuran besok, pada jam 16.00 WIB-nya, acara akan dilanjutkan dengan open house untuk masyarakat umum. Selanjutnya, akan ada pagelaran Hip Hop Jawa dengan penampilan 10 grup yang akan menampilkan atraksi unik bernuansa jawa Kontemporer.

Lagi-lagi, apa sih Djogdjakarta Slowly Asia? Hehehe. ini jawabannya. Kurator sekaligus CEO Roemah Pelantjong, Kafi Kurnia akan menceritakan panjang lebar. Belum lama ini di New York, ia bertemu beberapa kurator gallery seni rupa kontemporer. Dalam pertemuan itu, ia berbincang-bincang soal street art, mulai dari Keith Haring, Banksy, Sickboy, D’Face, JR, Nunca hingga Shepard Fairey. Obrolan sangat seru hingga larut malam. "Sebelum tidur, saya masih tercekam dengan salah satu komentar rekan saya, bahwa – “Street Art – Never a Secret”.

Motto ini, katanya, bukanlah sesuatu yang baru. Malah sering dijumpai dalam banyak graffiti di kota-kota besar. Terpampang antara dinding kosong, entah itu dikolong jembatan atau pada bekas pabrik yang ditinggalkan. Berlainan dengan seni-seni halus yang memerlukan podium formal seperti galeri dan museum, maka “street art” adalah bentuk seni yang memilih podium “Exhibitionist” yang terbuka dan menantang. Sehingga menjadi sangat publik.

Itulah sebabnya, “street art” tidak pernah menjadi sebuah rahasia. Bagi banyak pelakunya, “street art” memang masih menjadi sebuah kanal pelampiasan. Anggaplah seperti sebuah masturbasi seni. Jadi jangan heran apabila mereka dimusuhi aparat, terlebih apabila seni yang ditampilkan cuma sekedar corat-coret, yang tidak mengindahkan keindahan dan lingkungan sekitar. Baru belakangan ini saja, artis-artis besar “street art” tampil dengan komposisi sosial yang cerdas, yang tidak jarang meledek dengan humor yang dalam. Maka apresiasi terhadap “street art” mulai meradang hingga ke nilai komersialisasi yang menyaingi seni seni kontemporer lain-nya.

Pameran Street Art “Djogdjakarta Slowly Asia” yang digagas Lentur Gallery/Roemah Pelantjong di Djogdjakarta dimaksudkan menjadi sebuah batu apung baru yang memunculkan keberanian dan pengakuan atas kehadiran sejumlah perupa “street art” Indonesia (selusin jumlahnya), yang bersama-sama mewujudkan sebuah coretan raksasa sepanjang lebih dari 40 meter dalam sebuah kenakalan bersama mengusung Djogdjakarta menjadi pusat turisme dunia yang baru dengan slogan : “Djogdjakarta Slowly Asia”.

Pameran “street art” ini akan menjadi pameran tetap, karena uniknya karya yang terpampang di selasar ini akan dijadikan sebuah pusat kerajinan cindera mata khas Djogdjakarta yang nantinya akan disebut dengan Minioboro alias Mini Malioboro. Mengamati tampilan karya 12 perupa “street art” Djogdjakarta ini, kita diajak menjelajahi sebuah emosi yang terpigura dalam sebuah selimut perca, dengan batas-batas naratif dan visual. Antara yang gamblang, dan yang tersirat. Dan antara yang tampil dan yang tersamar. Tantangan berikutnya tentulah nanti ketika selasar “street art” ini berinteraksi dengan orang banyak. Menguak dan menyentil emosi. "Menggelitik syaraf kita. Lalu meninggalkan kesan. Utuh atau sepenggal. Apapun bentuknya," ujarnya.

"Bagi saya sendiri kenikmatan bercengkrama dengan “street art” – Djogdjakarta Slowly Asia adalah pada kejengahan pola pikir dan interpertasi, bahwa rahasia dan kesucian “street art” memang tidak pernah ada. Sebuah ketelanjangan baru. Yang mengundang tanya dan takjub," kata Kurnia dalam siaran pers.

Senin, Oktober 10, 2011

Djogdjakarta Slowly Asia | a Streetart Exhibition

PARALEL EVENTS BIENNALE JOGJA XI
Roemah Pelantjong Proudly Present
A STREETART EXHIBITION
"DJOGDJAKARTA SLOWLY ASIA"

STREETARTIST :
SUCKTRASH | ANT | WHAT1204 | NSIDE | VAYNE | RUBS8 | MUCK TUYULOVEME | OAKER | NICK | BLAME | OYSTER | BIGSHOW | TRAGIC

OPENING :
20 October 2011
16.00 WIB till drop
(By Kafi Kurnia -Kurator / CEO Roemah Pelantjong)
At ROEMAH PELANTJONG
Jl. Magelang KM.8 Yogyakarta

HIPHOP PERFORM :
| Saintrow (SBY) | Youngsta | Djavallutha | Dirty Connection | | Gangguan (Pasuruan) | N.0.K. wolfgang | Soul2playa | N.O.T || JKH2C | ROU | ROMANU (Wonogiri) | B.E.N.D.O.T (Pasuruan)

Rabu, September 28, 2011

SAYEMBARA BAMBOO SAURUSS

... SAYEMBARA BAMBOO SAURUSS - A journey of re newable faith .... caranya mudah : Kunjungi BAMBOO SAURUSS di PACIFIC PLACE - Jakarta - hingga tanggal 11 SEPTEMBER 2011 .... sebuah patung bambu setinggi 3 meter dalam bentuk T-Rex bermotif batik parang .... Anda cukup berfoto didepannya dengan gaya yang unik dan nyeleneh ..... kirim foto anda ke ajaib@cbn.net.id ..... foto yang terpilih akan mendapatkan hadiah berupa merchandise khas ROEMAH PELANTJONG

BAMBOO SAURUSS – A Journey of Renewable Faith

Ritual berpuasa selama 30 hari penuh, barangkali tidaklah semestinya dianggap hanya sebagai kewajiban beragama. Barangkali maknanya jauh lebih dalam dan sangat dalam. Komikus terkenal Djogdjakarta Ismail Sukribo bersama dengan 7 orang perupa akan menempuh ritual puasa ini dengan sebuah perjalanan spiritual yang sangat unik. Sebuah patung T- Rex yang telah punah, kembali dihidupkan dan dibuat dari anyaman bamboo setinggi 3 meter. Patung T-Rex dari anyaman bamboo ini lalu diberi motif batik parang, dan rencananya akan di pamerkan di Pacific Place selama bulan Puasa. Patung ini diberi nama Bamboo Sauruss.


Fashion Show Kerudung

Mulai tanggal 12 Agustus hingga Lebaran, Roemah Pelantjong di Djogdjakarta menggelar sebuah acara esklusif berupa pameran “Sajadah dan Kerudung”. Pameran unik ini digagas Roemah Pelantjong sebagai salah satu event untuk merayakan Ramadhan 2011. Event seperti ini direncanakan akan dilakukan secara teratur di bulan-bulan berikutnya dengan berbagai tema kreatif dan unik.

Pameran Sajadah dan Kerudung

 Sumber: Jogjanews
Sajadah yang akrab dengar ritual berdoa dan shalat yang biasanya ditampilkan dengan tenunan permadani secara klasik, kini tampil berbeda dengan kain berkonsep perca yang unik. Sedangkan kerudung yang terbuat dari sutra liar dalam warna yang sangat sederhana menambah daya tarik Pameran Sajadah dan Kerudung di Roemah Pelantjong Yogyakarta.


Selasa, Agustus 16, 2011

Ahmad Faisal Ismail: Berkibar Bersama Sukribo

Sumber: HenryKomik

Nama lengkapnya Ahmad Faisal Ismail, tapi ia lebih populer dengan nama Mail Sukribo. Mail memang pencipta tokoh kartun Sukribo yang secara berkala muncul di Kompas edisi Minggu. Bahkan, Sukribo jua sudah mucul di kaus, mug, dan lainnya. Ia juga punya studio Sebikom yang mengerjakan berbagai karya ilustrasi.

Sabtu, Agustus 13, 2011

Roemah Pelantjong Gelar Pameran “Sajadah dan Kerudung”

Sumber: Kapanlagi
Mulai tanggal 12 Agustus hingga Lebaran, Roemah Pelantjong di Djogdjakarta menggelar sebuah acara esklusif berupa pameran “Sajadah dan Kerudung”. Pameran unik ini digagas Roemah Pelantjong sebagai salah satu event untuk merayakan Ramadhan 2011. Event seperti ini direncanakan akan dilakukan secara teratur di bulan-bulan berikutnya dengan berbagai tema kreatif dan unik.

Kurator senior Roemah Pelantjong, KAFI KURNIA mengatakan bahwa Roemah Pelantjong akan terus menerus menggali berbagai kekayaan budaya dan etnik Indonesia dan mengangkatnya menjadi sebuah event seni, semata-mata sebagai gerakan motivasi untuk membangkitkan gairah para pengrajin untuk terus menerus berinovasi.

KAFI KURNIA, berharap misi dan visi Roemah Pelantjong – Djogdjakarta sebagai sebuah kawah candradimuka untuk menggagas inovasi dan kreativitas karya-karya kontemporer akan terus berkelanjutan dan bisa sekaligus memposisikan Djogdjakarta sebagai tujuan utama pariwisata di ASIA.

Pameran “Sajadah dan Kerudung” sangat kritis dan strategis, karena walaupun jumlah produk yang dipamerkan sangat terbatas, namun pameran ini mampu menampilkan sebuah keberanian baru untuk berkreasi, terutama karena karya-karya yang ditampilkan mewakili desainer muda dengan interpretasi segar.

Sebagai contoh, Sajadah yang akrab dengan ritual berdoa dan shalat yang biasanya ditampilkan dalam tenunan permadani secara klasik, kini tampil berbeda dengan kain berkonsep perca yang unik. Sejarah teknik menjahit dengan perca, telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Awalnya barangkali adalah untuk menyelamatkan potongan-potongan sisa kain tua, lalu menjahitnya menjadi satu, dan menjadi kain yang lebih berguna seperti selimut. Itu sebabnya teknik ini banyak berkembang diberbagai jaman revolusi dan kolonial, ketika rakyat mengalami masa-masa sulit. Kain-kain yang disambung menjadi satu ini, awalnya tidak memerhatikan motif dan bentuk, tampil seadanya. Lalu berkembang menjadi keragaman motif yang memukau. Dan dikenal dalam berbagai budaya etnik, mulai dari Mesir, Rusia hingga Amerika.

Sajadah yang ditampilkan di Roemah Pelantjong, kali ini adalah juga karya seorang pengrajin Ibu rumah tangga dari Jakarta, yang awalnya bereksperimen dengan sisa kain. Lalu dikembangkan dengan menggunakan kain dan bahan berkualitas tinggi, menampilkan motif mozaik dengan warna dan desain kontemporer. Dibuat dengan bantuan perangkat lunak modern dan tingkat ketepatan (presisi) yang sangat tinggi, masing-masing sajadah yang dibuat mempunyai kekhasan tersendiri, tidak ada yang sama persis.

Produk kedua yang dipamerkan adalah kerudung. Sebuah asesori yang dipakai kaum perempuan dalam berbagai agama termasuk Islam. Kerudung menampilkan perempuan dalam sosok yang khusuk dan anggun. Dalam berbagai budaya, kerudung seringkali dipakai dalam saat-saat penting seperti ketika berduka cita, atau peristiwa keagamaan yang sangat besar, termasuk Lebaran. Kali ini Roemah Pelantjong menampilkan dua sumbu desain yang sangat berbeda dan esklusif.

Yang pertama, Roemah Pelantjong bekerja sama dengan seorang desainer muda asal Djogdjakarta menampilkan desain batik kontemporer, yang membuat interpretasi, baik gaya, warna dan motif yang baru. Desain kedua sangat tumpul dan lebih mono-krome, yaitu berupa aneka kerudung terbuat dari sutra liar. Tampil dalam warna yang sangat sederhana, apa adanya namun berkonsep ramah lingkungan yang berbeda. Esklusifitas dalam kesederhanaan alam. Keduanya menampilkan sebuah harmonisasi dan integritas yang baru dan segar.

Sebagai bonus, kurator senior Roemah Pelantjong, KAFI KURNIA, juga menampilkan berbagai sarung dengan warna-warna yang berlawanan dengan desain klasik terdahulu. Motif sarung secara klasik yang sangat maskulin, berupa garis yang berpotongan membentuk kotak, sangat tradisional, dikenal bukan saja di Indonesia, tetapi juga dibeberapa negara. Motif desain yang dikenal sebagai ‘tartan’ ini, misalnya dikenal secara filosofis dan mengakar di Scotlandia dan Amerika. Uniknya bagaimana motif tartan bisa masuk dalam motif sarung di Indonesia, masih menjadi misteri tersendiri. Beberapa rumah mode di luar negeri musim panas 2011, kembali mengangkat motif ‘tartan’ dalam berbagai desain.

Sarung yang ditampilkan Roemah Pelantjong, walaupun masih mengakar pada desain ‘tartan’ yang klasik namun dengan tampilan warna yang sangat bergairah dan ‘festive’. Tampilan warna yang sangat berani ini dimaksud sebagai arahan modis yang baru.

ROEMAH PELANTJONG dengan pameran mini ‘Sajadah dan Kerudung’ berusaha menampilkan sebuah kesegaran yang baru, dengan gaya bergagas inovatif. Menjadikan Lebaran menjadi lebih marak namun sekaligus punya arti yang lebih dalam. (cg/pr/wim)

Minggu, Agustus 07, 2011

Kafi Kurnia: Sensasi Bamboo Sauruss

Sumber: Gatra

JAKARTA-Ingin suasana berbeda sambil menunggu bedug buka puasa, silahkan datang ke Pacific Place! Di sana Anda akan menemukan suasana masa silam yang romantik. Adalah kelompok perupa Q+ atau Q‐Plus, yang mencoba menghidupkan suasana purba dengan ekspresi masa kini. Mereka menggagas ritual puasa ini dengan sebuah perjalanan spiritual yang sangat unik. Sebuah patung T‐ Rex yang telah punah, kembali dihidupkan dan dibuat dari anyaman bamboo setinggi 3 meter.

Patung T‐Rex dari anyaman bamboo ini lalu diberi motif batik parang, dan rencananya akan di pamerkan di Pacific Place selama bulan Puasa. Patung ini diberi nama Bamboo Sauruss. Gagasan ini pertama kali diungkap, Andi Ramdani dari Q+, lalu bergulir menjadi sebuah ide kolaborasi bersama Ikro’ Ahmad Ibrahim, Anton Win, Didi ‘797’, Sunardi St, Tri Pandrong, Fandi Panda, dan Akbar Bangkit.

Kafi Kurnia, kurator dari Lentur Gallery di Roemah Pelantjong – Djogdjakarta menjelaskan bahwa Bamboo Sauruss merupakan sebuah simbolisasi perjalalanan spiritual untuk sebuah preservasi iman dan pencarian jati diri kembali (reinventing oneself). Itu sebabnya Bamboo Sauruss diberi tambahan embel‐embel thema “A Renewable Faith”.

Bamboo Sauruss menurut KAFI KURNIA sarat makna dan perlambang. T‐Rex sang dinosaurus yang telah jutaan tahun punah adalah simbolisasi titik awal. Simbolisasi ini misalnya dalam sebuah pertunjukan wayang kulit selalu dihadirkan dalam bentuk gunungan. Bamboo Sauruss setinggi 3 meter ini juga merupakan simbolisasi gunungan secara kontemporer.

Simbolisasi gunungan bukanlah sebuah sikap sombong dan arogan. Melainkan sebuah titik awal untuk merenung, meditasi dan introspeksi. Orang‐orang zaman dahulu sudah menggunakan bentuk gunung ini untuk barang sehari‐hari seperti caping, topi bambu berbentuk kerucut, sehingga air hujan tidak mengganggu kepala, akan tetapi mata tetap dapat memandang dengan leluasa.

Selanjutnya, atap rumah joglo, yang menunjukkan bahwa pusat bangunan dengan lantai tertinggi terlelak di pusat, dibawah puncak atap dan merupakan tempat berdoa yang paling efektif. Nasi tumpeng juga berbentuk kerucut, dan puncaknya dipersembahkan kepada pimpinan tertinggi dalam acara ritual. Payung kraton bertingkat tiga juga menggambarkan tingkatan dari kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu.

Istilah kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu adalah tingkatan dari gunung. Bagian kaki melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu,keinginan yang rendah, yaitu dunia manusia biasa.

Bagian tengah melambangkan Rupadhatu, yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari ikatan nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk, yaitu dunianya orang suci dan merupakan “alam antara” yang memisahkan “alam bawah” (kamadhatu) dengan “alam atas” (arupadhatu). Bagian atas, Arupadhatu, yaitu “alam atas” atau nirwana, dimana kebebasan mutlak telah tercapai, bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan rupa.
Jadi bentuk T‐Rex adalah gunungan secara kontemporer yang mengawali sebuah titik permulaan. Simbol kedua adalah bambu yang dianyam menjadi patung T‐rex. Bambu itu liat dan lentur. Meskipun berakar serabut, pohon bambu tahan terhadap terpaan angin kencang, dengan kelenturannya dia mampu bergoyang bak seorang penari balet, fleksibilitas itu lah bambu. gerak yang mengikuti arus angin ,tetapi tetap kokoh berdiri di tempatnya mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup walau penuh cobaan dan tantangan, namun tidak kaku.

Bambu juga dapat di simbolkan sebagai sebuah siklus hidup manusia, contohnya setelah tunas tumbuh lalu keluar lah rebung, dan lalu besar bertunas dan menjulang tinggi. ini mengajarkan bagaimana kita perlu proses untuk menjadi lebih baik, dengan kesabaran, ketekunan, kegigihan dalam berusaha. Itu lah yang akan menjadi pintu kesuksesan seseorang.

Walaupun mungkin standar kesuksesan berbeda setiap orang, tapi itu bisa mengajarkan kita bagaimana cara berproses, hidup bukan sesuatu yang instan tapi dia berproses, tinggal bagaimana kita bisa menjadikan proses ini menjadi lebih berguna bagi kita semua.

Manfaat bambu yang sangat luar biasa, menjadikan juga bambu sebagai sebuah bahan baku ramah lingkungan dan yang selalu terbarukan. Siklus dan proses yang disimbolkan oleh bambu menjadi inti perjalanan spiritual kita bersama saat berpuasa. Menemukan diri kita yang sesungguhnya dan melahirkannya kembali dalam sebuah kesucian yang baru. Yang lebih baik. Yang lebih manusiawi.

Simbol terakhir adalah motif batik parang. Motif batik parang memiliki filosofi yang sangat dalam terkandung di dalamnya dan tidak sesederhana motifnya. Parang berasal dari kata pereng, yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.

Susunan motif leter S jalin‐menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar leter S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam. Batik parang memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi berupa petuah agar tidak pernah menyerah sebagaimana ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik parang pun menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik itu dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga di mana batik parang di masa lalu merupakan hadiah dari bangsawan kepada anak‐anaknya.

Dalam konteks tersebut, motif parang mengandung petuah dari orang tua agar melanjutkan perjuangan yang telah dirintis. Garis lurus diagonal melambangkan rasa hormat dan keteladanan, serta kesetiaan pada nilai‐nilai kebenaran Introspeksi diri, menyadari proses dan siklus kedewasaan, serta perjuangan dengan semangat tidak pernah padam menjadikan BAMBOO SAURUSS, sungguh sebuah perjalanan spiritual yang unik di bulan puasa ini. Rencananya BAMBOO SAURUSS setelah dipamerkan akan dilelang dan hasilnya akan disumbangkan untuk misi‐misi social (dwt).