Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Kamis, Februari 02, 2012

Prasasti Cinta Sultan Djogdjakarta (2)

Cinta dan pengorbanan ibarat dua sisi mata uang. Begitu besar cinta Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada Republik Indonesia, maka ia relakan kedaulatan Keraton yang dipimpinnya menjadi bagian dan wilayah resmi pertama NKRI.

2. Keraton Djogdjakarta Bergabung dengan NKRI

Tahun 1945, sore hari setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan NKRI, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan bergabung dalam wilayah NKRI. Lalu beliau mengeluarkan maklumat yang kemudian terkenal sebagai Maklumat 5 September 1945.

Isi maklumat itu adalah pernyataan bahwa Keraton Djogdjakarta dan Paku Alam bergabung dengan NKRI. Padahal saat itu tidak ada satu kerajaan ataupun negara-negara bentukan Belanda yang menyatakan bergabung dengan NKRI sehingga Yogyakarta merupakan wilayah pertama di NKRI.

Menurut Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo, seperti dikutip Kompas.com, “Pernyataan bergabungnya Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke dalam NKRI memiliki nilai strategis yang luar biasa karena saat itu, meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya, namun kolonialis Belanda selalu menyatakan mana wilayahmu sebagai sebuah negara,” katanya.

“Dengan pernyataan bergabungnya wilayah Yogyakarta ke NKRI waktu itu, menjadikan negara yang baru merdeka tersebut memiliki wilayah kedaulatan, dan langkah ini pun kemudian diikuti wilayah-wilayah lain, termasuk negara-negara atau kerajaan-kerajaan di Nusantara yang dibentuk Belanda,” katanya.

Pengorbanan lain Raja Djogdjakarta yang tidak kalah penting adalah ketika NKRI berdiri harus mencetak Oeang/uang Republik Indonesia (ORI) sehingga harus ada jaminan uang emas di Bank Indonesia. Saat itu pula, Sri Sultan HB IX menyerahkan emas batangan milik Keraton Djogdjakarta sebagai jaminan. (bersambung)

Rabu, Februari 01, 2012

Prasasti Cinta Sultan Djogdjakarta (1)


Sri Sultan Hamengkubuwono IX almarhum adalah pribadi yang cinta pada rakyatnya. Bukti-bukti cinta beliau terpampang di seluruh sudut Djogdjakarta dan dapat kita nikmati hingga saat ini. Di antaranya adalah kesediaan beliau bergabung dengan NKRI, penyusunan Serangan Umum 1 Maret 1049, pembuatan Selokan Mataram, hibah tanah untuk UGM, dan masih banyak lagi lainnya.

Bertepatan dengan bulan Februari yang ditasbihkan sebagai bulan kasih sayang, djogdjakarta.com menurunkan cuplikan-cuplikan bukti cinta Sultan Djogdjakarta pada Rakyatnya.

Selokan Mataram
Selokan Mataram adalah salah satu prasasti cinta Sultan pada rakyat Djogdjakarta.
Sekitar tahun 1943, penjajah Jepang sedang gencar mengadakan romusha untuk mengambil kekayaan alam Indonesia guna mendukung perang mereka melawan sekutu.

Raja Djogdjakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang mengetahui kekejaman tentara Jepang berpikir bagaimana menyelamatkan rakyat Djogdjakarta agar terhindar dari romusha.

Lalu kepada Jepang beliau mengatakan bahwa Djogdjakarta adalah daerah tandus tadah hujan dengan hasil bumi berupa ketela. Karena itu Sultan meminta Jepang agar menyuruh rakyat Djogdjakarta membangun selokan yang menghubungkan Kali Progo dengan Kali Opak. Sehingga nantinya di musim kemaraupun lahan pertanian di Djogdjakarta dapat menghasilkan padi dan bisa membantu kebutuhan tentara Jepang.

Ternyata Jepang mendengarkan sabda Sultan dan terbebaslah warga Djogdjakarta dari Romusha, diganti dengan membangun saluran air yang sebenarnya untuk kemakmuran warga juga.

Sejak adanya Selokan Mataram, kehidupan rakyat Djogdjakarta lebih makmur daripada sebelumnya. Selokan sepanjang 31 KM itu telah mengairi ribuan hektar lahan pertanian hingga saat ini.

Jika Anda tertarik, Anda bisa menelusuri Selokan Mataram hingga ke hulunya di sungai Progo. Semakin ke hulu, Anda akan disuguhi pemandangan alami pedesaan dan keramahan warga Djogdjakarta.

Senin, Januari 23, 2012

Pameran Naga Jawa

Oleh: Kafi Kurnia

Tarikh Tiongkok yang berbasis lunar, pada tanggal 23 Desember 2012, memasuki sebuah awalan baru, yaitu tahun Naga. Atau lebih dikenal dengan Shio Naga. Shio dalam penanggalan Tiongkok selalu berlambang hewan. Dan ada 12 shio dalam satu siklus. Naga adalah shio ke lima, dan tahun ini berdasarkan perhitungan Feng Shui, shio naga tahun 2012 dipengaruhi oleh elemen air.

Walaupun Naga merupakan hewan mistis, yang diciptakan berdasarkan legenda, penokohan naga ada dalam budaya barat dan timur. Meskipun bentuk penokohan-nya sangat berbeda. Naga yang merupakan simbol kekuatan kini dipengaruhi air yang sangat lentur dan mudah berubah bentuk. Maka tahun 2012 dipercaya akan menjadi tahun yang sangat unik. Sebuah awal dari sebuah peradaban baru dengan kekuatan baru. Setelah gejolak di Timur Tengah, dan wafatnya sejumlah diktator di tahun 2011. Maka 2012 dipercaya akan memunculkan kekuatan-kekuatan baru.

Di tanah Jawa sendiri, penampakan dan penokohan Naga, sangat tidak asing. Berbagai ornamen lama di gedung-gedung tua, dan kraton, sarat dengan simbol-simbol naga. Termasuk didalam bentuk-bentuk keris, perabot rumah tangga serta ornamen gong dan gamelan. Uniknya motif naga juga sangat kaya dalam kain-kain tradisional seperti Batik. Dan bentuk penokohan dan penampakan naga tersebut sangat khas dengan budaya Jawa.

Roemah Pelantjong sebagai hub-kreatif di Djogdjakarta, yang memiliki misi untuk menjadikan Djogdjakarta sebagai tujuan pariwisata global berikutnya, mulai tanggal 22 Januari 2012 menggelar sebuah pameran unik. Yakni, gelaran  yang diberi nama NAGA DJAWI. Pameran ini merupakan event dengan menggelar sejumlah kegiatan;mulai dari kuliner, batik, lukisan, foto, t-shirt, hingga merchandise.

Pameran Naga Djawi menggelar peluncuran Bakpia Unik yaitu BAKPIA DJANGGUT NAGA. Bakpia yang berasal dari dialek HOKKIEN yang artinya kue berisi daging. Konon merupakan sebuah peristiwa kuliner unik. Karena berawal dari budaya Peranakan, kini BAKPIA telah berubah menjadi oleh-oleh khas asli Djogdjakarta. Bakpia sendiri memiliki sejumlah cerita awal yang berbeda-beda dan menjadi legenda tersendiri.

Salah satu cerita favorite, adalah kue yang dikenal dengan sebutan “Lou Pho Piang” – atau kue istri ini , berawal dari sebuah desa terpencil di Tiongkok. Saat itu sebuah penyakit misterius tengah menjadi wabah di seluruh desa. Ada sepasang suami istri yang orang tuanya terjangkit penyakit tersebut.

Maka sang istri bekerja siang dan malam untuk mencari uang untuk membeli obat. Sang suami tersentuh, lalu membuat kue istimewa untuk sang istri. Cerita itu menyebar cepat keseluruh negeri, dan menjadi perlambang cinta. Termasuk di Djogdjakarta. Dan untuk menyambut tahun NAGA, Roemah Pelantjong menyajikan Bakpia Djanggut Naga yang esklusif.

Pameran Naga Djawi juga menggelar sejumlah lukisan dari para artis “street art” yang sedang naik daun. Artis seperti Anton Win, Aji, Sabik, Rewhat, Alil dan Rudy. Dan sebuah lukisan anyar, dari kartunis asal Djogdjakarta – Sukribo. Lukisan yang berjudul “ROCK’N’ROLL DRAGON” menampilkan interpertasi dan dinamika negeri yang bergejolak untuk menunggangi sang naga, agar bisa dikendalikan. Dinamika dan pergerakan yang terlukiskan menunjukan enerji dan perjuangan yang berkesinambungan. Menunjukan semangat pantang menyerah yang ditata dalam humor khas Sukribo.

Hal langka yang juga unik adalah pameran kain tradisional. Yang pertama adalah pameran sejumlah kain tradisional yaitu batik asli Djogdjakarta. Sejumlah batik tulis dengan motif naga di buat oleh pengrajin dan artis batik di Bayat dan Bantul. Batik-batik ini dibuat hanya dalam satu warna atau mono-chrome yang tradisional. Dan dua warna yang sangat indah dan mempesona. Pameran Naga Djawi juga menampilkan batik nithik asli Imogiri. Batik tradisional ini sangat berbeda dalam cara pelukisan-nya, yaitu tidak dilukis melainkan dilakukan dengan cara menitik-kan sejumlah titik yang membentuk motif Naga.

Kain tradisional yang kedua adalah sayuk alias gendongan. Ini adalah kain khusus yang di buat dengan tekhnik batik, dan dipakai untuk menggendong bayi atau anak kecil. Kain tradisional ini selalu dibuat dengan warna-warna yang sangat menyolok dan diberi motif naga yang sangat kharismatik. Konon motif naga dimaksudkan, agar sang bayi atau anak mendapatkan kekuatan, enerji mistis dari sang Naga. Dan juga perlindungan yang seutuhnya dari yang maha kuasa.

Yang sangat istimewa dalam Pameran Naga Djawi adalah kreasi kreatif seorang desainer muda Tatox Christ asal Magelang, yang menggunakan bahan batik gendongan atau sayuk ini menjadi kreasi fashion seperti gaun dan kemeja yang bernilai tinggi. Sebuah upaya re-inventing kain tradisional menjadi sebuah karya baru yang sangat menarik.

Pameran Naga Djawi, dibuka oleh Ibu Kartika Affandi dengan pemotongan tumpeng Bakpia Djanggut Naga, dan dimeriahkan dengan fashion show karya Tatox Christ dan tarian Barongsai, dengan tujuan mendoakan agar tahun Naga air ini membawa rejeki dan berkat yang berlimpah.

Rabu, September 28, 2011

Semua yang Pelan Ada di Sini

JOGJA, punya satu lagi tujuan wisata. Sebuah pusat belanja yang diberi nama Roemah Pelantjong. Swalayan pelan ini didirikan oleh Kafi Kurnia dan teman-temannya dan diresmikan pada 18 Juni 2011. Sekarang, Roemah Pelantjong sudah operasional dan siap menjadi salah satu rujukan wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung ke Jogjakarta.


Fashion Show Kerudung

Mulai tanggal 12 Agustus hingga Lebaran, Roemah Pelantjong di Djogdjakarta menggelar sebuah acara esklusif berupa pameran “Sajadah dan Kerudung”. Pameran unik ini digagas Roemah Pelantjong sebagai salah satu event untuk merayakan Ramadhan 2011. Event seperti ini direncanakan akan dilakukan secara teratur di bulan-bulan berikutnya dengan berbagai tema kreatif dan unik.

Kunjungan Concept Magazine

Sumber: Concept Magazine
Berangkat dari ide untuk memproklamirkan Djogdjakarta, sebagai Ibu Kota Pelan di dunia dan untuk meletakan Djogdjakarta di peta industri turisme dunia, yang memiliki keunikan budaya, dan keindahan alam, serta kualitas hidup yang sangat tinggi, maka Kafi Kurnia dan teman-teman mendirikan sebuah pasar swalayan “pelan” pertama di dunia “Roemah Pelantjong.” Swalayan “pelan” ini terletak di Jalan Raya Magelang Km 8, tak jauh dari area Candi Borobudur.

Senin, Agustus 01, 2011

Mengunjungi Roemah Pelantjong Djogdjakarta

Sumber: Nova
"Monggo pinarak," sambut para pemandu di Roemah Pelantjong.
"Hari ini Sabtu 18 Juni 2011, kami para pemangku Roemah Pelantjong dengan segala kerendahan hati memproklamirkan Djokdjakarta sebagai ibukota pelan di dunia. “

Begitu semacam prasasti yang terlihat di dinding Roemah Pelantjong, semacam pasar swalayan di Yogyakarta. Roemah Pelantjong yang menempati lahan sekitar 1.500 meter pesegi menjadi sebuah tempat unik di kota budaya ini. Roemah Pelantjong yang berslogan Yogyakarta Slowly Asia digagas oleh Kafi Kurnia dan mengajak bekerja sama seniman Yogyakarta seperti Ahmad Faisal Ismail.

Kafi Kurnia terkesan dengan filosofi hidup orang Yogyakarta yaitu hidup “Alon-alon Maton Kelakon” yang artinya pelan-pelan yang penting terlaksana. “ Sebuah filosofi yang sering disalah tafsirkan, menjadi gaya hidup pelan-pelan saja. Alias semuanya serba lambat. Padahal filosofi hidup ini, mengajarkan sebuah gaya hidup yang penuh perhitungan, “goal oriented” dan hidup satu irama dengan waktu. Hidup yang tenteram, sentosa, dan sejahtera.

Menurut Ahmad Faisal, ketika dalam perjalanan ke luar negeri, Kafi sering mengampanyekan ide ini dan mendapat sambutan hangat. Semacam aksi untuk meletakkan Jogja di peta industri turisme dunia yang memiliki keunikan budaya, keindahan alam, serta memilikii kualitas hidup yang tinggi. “Agar turis dan konsumen bisa menikm

Menempati lokasi strategis di Jalan Magelang km 8, Roemah Pelantjong didesain artistik bekerja sama dengan para seniman. Dindingnya dipenuhi seni mural, lukisan wayang yang khas Yogyakarta. Karakater kartun Mail yang dimuat secara berkala di Harian Kompas, Sukribo, juga banyak menghiasi dinding ruangan. Tentu saja, “Dipajang pula banyak produk seni yang pembuatannya mesti pelan tidak bisa instan seperti tenun, rajutan, dan bati k tulis yang dibuat dengan pelan dan kesungguhan,”papar Mail.

Lantaran bersemangat pelan ini, salah satu hiasannya adalah sepeda onthel, kendaraan pelan yang menyehatkan itu. “Kami juga melengkapinya dengan galeri seni, karena Jogja tidak bisa lepas dari itu,” lanjutnya.

Roemah Pelantjong juga dilengkapi kafe dan ruang food court. M. Tabrany, chef di Roemah PPelantjong menuturkan, salah satunya ia mendesain kafe dengan konsep angkringan. “Angkringan, kan, identik dengan mekanisme pelan. Di sini, saya membuat minuman juga dengan irama pelan,, kembali ke masa lalu. Misalnya memasak air dengan menggunakan anglo. Mulai membakar api, menjerang air tidak instan. Memang selama pengalaman menjadi chef, metode memasak yang paling natural dan kembali ke alam, akan menghasilkan cita rasa yang sempurna. Nah, teh cencem ini diminum dengan pakai gula batu. Mesti pelan, kan, tidak bisa langsung jadi seperti gula pasir. Rasanya sudah pasti nikmat,” kata Tabrany.

Tabrany melanjutkan, ia juga ingin mengangkat soto sebagai kekhasan kuliner Yogyakarta. “Sekarang ini terkenal soto lamongan, soto Kudus, soto Betawi, tapi tidak ada soto Jogja. Makanya, Roemah Pelantjong menghidangkan soto Jogja yang punya identitas khas. Berisi daging, kikil, dan jeroan, kuah soto Jogja menurut Tabrany, rasanya asam pedas. “Sayurannya juga berbeda, yaitu antara lain menggunakan wortel, buncis, kentang potong kotak. Dijamin memang beda dengan soto lainnya.”


Meski belum lama buka, Roemah Pelantjong sudah mendapat respons positif dari pengunjung. Hanya saja, menurut Mail, masih perlu terus pembenahan. Misalnya saja mewujudkan Minioboro, plesetan Malioboro, yang menafaatkan selasar di Roemah Pelantjong dengan menggandeng para UKM. Nah, kalau Anda ingin menikmati suasana ibukota pelan sedunia, tak ada salahnya mampir ke Roemah Pelantjong.

Henry